Pos Terbaru Semua Tentang Belajar Indonesia

Japanese Language Program for Overseas Students University

Friday, April 20, 2012


Japanese Language Program for Overseas Students University adalah program pelatihan bahasa Jepang yang ditujukan bagi mahasiswa bahasa Jepang di luar negara Jepang. Program ini diselenggarakan oleh The Japan Foundation sejak tahun 2009. Indonesia merupakan salah satu negara yang terpilih untuk program ini.

Program ini merupakan beasiswa yang bertujuan memberi kesempatan bagi mahasiswa bahasa Jepang untuk memperdalam pengetahuan tentang bahasa, budaya, dan masyarakat Jepang.

Salah satu perguruan tinggi di Semarang yaitu Unnes, tahun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program ini  yang akan dilaksanakan mulai 6 November hingga 20 Desember 2012. Pelatihan dilaksanakan di The Japan Foundation Japanese Language Institute Kansai (Osaka) Jepang.

Pendaftar adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang dan mempunyai kemampuan berbahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan untuk keperluan komunikasi, pidato, dan diskusi. Peserta diharuskan sehat jasmani dan rohani. Selain itu semua biaya pelatihan termasuk tiket pesawat pulang-pergi ditanggung pihak penyelenggara, kecuali biaya pembuatan paspor dan visa.

Google AdSense Support Bahasa Indonesia

Monday, February 27, 2012



Ada kabar baik untuk semua blogger Indonesia. Akhirnya Google AdSense supportbBahasa indonesia, silahkan di cek langsung aja ke blog Google Adsense di http://adsense.blogspot.com/2012/02/adsense-now-speaks-indonesian.html 

"We’re glad to announce that Indonesian has just joined the family of AdSense supported languages. Let’s celebrate by raising our hands in a kecak dance, watching a wayang kulit show or cooking traditional Indonesian recipes.If you have a website in Bahasa Indonesia, you’ll now be able to earn money by showing Google AdSense ads. To get started, sign up for an AdSense account. We’ll review your application and in the meantime, we recommend you get familiar with the basics of AdSense and our policies.If you already have an AdSense account, simply implement AdSense on your site in Bahasa Indonesia to start displaying contextually targeted ads.You can now also implement AdSense for Mobile content on your mobile sites in Bahasa Indonesia. Check out our Help Center to learn how to implement AdSense on a mobile site.Selamat datang di program AdSense!" 

Kalau diterjemahkan kurng lebih seperti ini:
Kami senang mengumumkan bahwa bahasa Indonesia baru saja bergabung dengan keluarga bahasa yang didukung AdSense. Mari kita merayakannya dengan mengangkat tangan kita dalam tari kecak, menonton pertunjukan wayang kulit atau memasak resep tradisional Indonesia.Jika Anda memiliki situs web dalam Bahasa Indonesia, sekarang Anda akan dapat memperoleh uang dengan menampilkan iklan Google AdSense. Untuk memulai, sign up untuk account AdSense. Kami akan meninjau aplikasi Anda dan sementara itu, kami sarankan Anda mendapatkan akrab dengan dasar-dasar AdSense dan kebijakan kami.Jika Anda sudah memiliki account AdSense, hanya menerapkan AdSense di situs Anda dalam Bahasa Indonesia untuk mulai menampilkan iklan bertarget kontekstual.Anda sekarang dapat juga mengimplementasikan AdSense untuk konten Mobile pada situs mobile Anda dalam Bahasa Indonesia. Kunjungi Pusat Bantuan kami untuk mempelajari bagaimana menerapkan AdSense di situs mobile.Selamat datang di program AdSense!

Sebagai tambahan, jika ingin melihat daftar Bahasa yang disupport Google AdSense bisa dillihat di http://support.google.com/adsense/bin/answer.py?hl=en&answer=9727

Kata, Dipakai Dibuang Sayang

Tuesday, February 21, 2012


Mungkin awalnya orang Arab hanya tahu bersetubuh, yaitu ketika kelamin laki-laki dan perempuan saling bertemu. Disebutlah jima’ yang artinya berkumpul atau bertemu. Dan ketika unta-unta mereka berkumpul di padang rumput, mereka mengatakan ijtama’a al-ibil (unta-unta berkumpul). Hebatnya, dari ide sederhana ini mereka menemukan kata-kata jadian lainnya: ijma’ (kesepakatan ulama), ijtima’ (bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus), mujtama’ (orang-orang yang hidup bersama di satu tempat atau masyarakat), jami’ah (tempat mahasiswa belajar atau universitas), jum’at (hari orang berkumpul untuk melaksanakan salat bersama—salat jum’at), dan jama’ah (sekumpulan orang yang berada dalam satu garis kepemimpinan). Kata-kata ini selanjutnya digunakan sebagai istilah untuk menyebut berbagai hal yang ada dalam kehidupan mereka. Ada pola baku yang selalu diikuti sehingga bahasa Arab tidak saja berhasil mengembangkan berbagai macam peristilahan, ia juga mampu menjelaskan ide yang paling kompleks sekalipun.

Ketika Islam datang ke Nusantara, kita memborong kata-kata ini tanpa memerhatikan kaidah yang ada di belakangnya. Akibatnya adalah, bahasa kita kaya dengan kosa kata, namun miskin dalam peristilahan. Kita tidak punya istilah khusus untuk menyebut peristiwa sejajarnya bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis, yang menandakan bulan baru. Dan ternyata banyak istilah penting dalam bahasa kita diambil dari bahasa asing. Hal ini sebenarnya biasa dalam bahasa. Bahasa apa pun menyerap kata atau istilah asing. Hanya masalahnya, kebiasaan ‘memborong’ itu terus berlanjut. Mengapa kita tidak membuat istilah sendiri?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita lihat bahasa Arab, sebuah bahasa yang banyak menyumbang bahasa kita. Bahasa Arab memiliki metode tasrif (perubahan kata) yang bertujuan memperluas fungsi kata. Dari sini didapatkan istilah baru untuk mengungkap konsep baru. Siapa sangka bahwa kata tarbiyah (pendidikan) dalam bahasa Arab diambil dari kata rabwah, artinya humus, bunga tanah di mana tanaman bisa tumbuh subur. Dan siapa sangka pula bahwa syari’ah memiliki makna “jalan menuju mata air.” Di sini kita melihat penamaan didasarkan pada kesamaan atau kemiripan ide dasar. Perluasan terjadi karena kata tidak hanya punya arti yang sebenarnya (makna haqiqi), namun juga arti kiasan (makna majazi).
Di samping itu, dalam bahasa Arab, kata mempunyai sejumlah bentuk: kata kerja, kata benda, kata sifat, kata keterangan, dan masing-masing memiliki sub-bentuk, sehingga satu kata bisa memiliki belasan kata jadian. Kata “kataba” (menulis), misalnya, memiliki tasrif “kitab” (buku), “katib” (penulis), “maktab” (meja tulis), “maktabah” (perpustakaan), dan seterusnya. Ide “menulis” erat kaitannya dengan “buku,” dengan “perpustakaan.” Metode ini sederhana namun cerdas, karena bahasa bisa berkembang sedemikian rupa, melampaui simpul-simpul lokalnya untuk menampung ide-ide baru.

Dalam pengamatan saya, bahasa Indonesia pun memiliki metode ini, hanya memang tidak terstruktur dengan baik, sehingga kita seringkali mencari kata baru untuk membuat istilah baru. Padahal ide dasarnya sudah terkandung dalam perbendaharaan kata kita. Pada saat itulah godaan untuk meminjam istilah-istilah asing begitu dahsyat. Kata “biak” punya sejumlah bentuk jadian: membiak, pembiak, pembiakan, biakan, terbiak, dst. Sejauh ini kata ini hanya digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan ternak. Mengapa tidak kita gunakan “pembiakan” untuk “investment,” dan “pembiak” untuk “investor?” Mengapa kita hanya berani menggunakan “unduh” untuk “download?”

Dalam beberapa hal kita berani. Kita menemukan banyak kata baru akhir-akhir ini. Namun keberanian saja tidak cukup. Kita harus punya pola, salah satunya dengan cara memperluas fungsi kata: unduh, mengunduh, unduhan, pengunduh, pengunduhan, terunduh, keterunduhan, dst. Setelah kata-kata ini tercipta, mereka bisa digunakan untuk peristilahan lainnya. Kita bisa gunakan “pengunduhan” untuk “rush” (penarikan uang dalam jumlah besar karena peristiwa tertentu) dan “profit taking” (usaha ambil untung).

Sejauh ini ada upaya kreatif dari berbagai kalangan untuk menjajal kata-kata baru. Ini patut dihargai dan diteruskan. Gerus adalah kata yang relatif baru. Dalam benak saya, “menggerus” adalah proses pelumatan cabe, bawang, terasi di cowet untuk membuat sambal. Kata ini sekarang dipakai untuk berbagai hal yang berhubungan dengan longsor dan erosi. “Tebing itu akhirnya ambruk karena tergerus air.” Kita tentu bisa perluas lagi penggunaan kata ini, tidak saja untuk erosi dan abrasi, tapi juga untuk segala tindakan yang berhubungan dengan mengontrol dan menguasai. Setiap kali mendengar kata ini, saya menangkap kesan negatif sehingga kita bisa memadankannya dengan “intervensi.” “Pemerintah semakin menggerus kekuatan masyarakat sipil.” Mengapa tidak? Setelah bersusah payah menemukan kata itu, mengapa kita buang.

 Oleh Jajang Jahroni
Born in June 12, 1967, he obtained his B.A. from State Islamic Institute Jakarta, MA from Leiden University, the Netherlands. He is now PhD candidate in Boston University in the field of cultural anthropology. He previously worked with Center for the Study of Islam & Society (PPIM), published some articles and books on Islam, civil society, and democracy.

Grammar Bahasa Indonesia

Wednesday, January 4, 2012

Pronoun from the text:

Saya : I; my; me
Dia : he or she
Mereka : they

Sentence structure from the text:
Nama saya : my name is …
Saya tinggal di : I live in …
Saya belajar di : I study at …

Question word:

Siapa : who
Dari mana : from where
Kapan : when
Mengapa : why
Bagaimana : how

Learning Bahasa Indonesia

Read the following text
Nama saya Ratsimbazafi Mario Patrik. Saya orang Madagaskar. Saya datang ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia. Saya tinggal di rumah keluarga Bapak Sihono.
Saya belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang. Universitas itu jauh dari rumah saya. Saya pergi ke universitas naik sepeda. Saya belajar mulai jam 9 pagi sampai jam 12 siang. Ada lima orang di kelas saya. Mereka adalah teman–teman saya dari Amerika. Nama guru saya Fathur. Dia adalah guru yang baik. Kami senang belajar bahasa dan budaya Indonesia dengan Pak Fathur.

Key words:
Datang (v) – come
Belajar (v) – study
Tinggal (v) – live; stay
Rumah (n) – house
Keluarga (n) – family
Jauh (adj.) – far away
Guru (n) – teacher
Sepeda n) cycle
Budaya (n) – culture

Answer the following questions.

1. Siapa nama dia?

a. Nama saya Ratsimbazafi Mario Patrik.

b. Nama dia Sutoyo.

c. Nama dia Ratsimbazafi Mario Patrik.

2. Dia dari mana?

a. Dia dari Indonesia.

b. Dia dari Amerika.

c. Dia dari Madagaskar.

3. Mengapa dia datang ke Indonesia?

a. Dia datang ke Indonesia untuk belajar.

b. Dia datang ke Indonesi untuk bekerja.

c. Dia datang ke Indonesia untuk berekreasi.

5. Bagaimana dia pergi ke Universitas?


a. Dia pergi ke universitas naik bus.

b. Dia pergi ke universitas naik sepeda.

c. Dia pergi ke universitas naik sepeda motor.

History of The Indonesian Language

I would not say that learning Indonesian is “easy”, as I don’t believe for an adult learning any language is “easy”. It is, however, relatively “easy” to get by in Indonesian, as historically speaking, the basis of this language was for many centuries used as a lingua franca or a means of communication among the traders, missionaries etc in the Indonesian archipelago including Indians, Chinese, Arabs and Europeans, perhaps as early as the first century. Because it was a lingua franca it had to be relatively simple for the different people visiting the archipelago to be able to communicate with it, in a relatively short time.

The place of origin of this language is around the Riau islands in the Malacca Straits, the thoroughfare of the trading traffic. The busy trade routes of the Strait of Malacca date from the 5th century CE. The earliest epigraphical evidence of the language, known as the “old Malay” language, is dated around 7th century and found at sites in Sumatera such as Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur and Karang Berahi. The language belongs to the family of Austronesian languages, found in the region from Madagascar in the west, Taiwan in the north, Easter Island in the East, and New Zealand, Christmas and Cocos Islands in the south. The first “foreign” contact were with Hindu Indians, followed by Muslim Arabs and Chinese before the arrival of the Europeans. The Portuguese (1511 to 1596) and then the Dutch (from 1596 onwards) languages, and of course English, enriched the vocabulary of the language, as did the 300 regional languages.

The Sanskrit influence from India is found mostly in religion, literature, architecture and philosophy (words like pustaka, sastra, darma, karya, mandala, guru). The Arabic influence is of course mostly in religion and law (nikah, akad, talak, hibah, hakim). The Chinese vocabulary is very limited and to be found mostly in food (tahu, mi, taoge, but also loteng). Portuguese is the origin of many words describing things which were introduced through contact with Europeans (mentega, sekolah, gereja, meja, jendela, sepatu). The Dutch introduced much administrative and educational terminology (kantor, polisi, kamar, administrasi), and English is the origin of most contemporary technical and electronic terminology (komputer, internet).

The language was originally written in the pre-Nagari (Pallawa) script. With the arrival of Islam it was then written in the Arabic script (called Jawi script in Malaysia). The Dutch introduced the Romanised script using the Dutch spelling. This is when the Malay language used in what is now Malaysia began to differ from the Indonesian language in the former Netherlands East Indies Territory. Several different spelling systems have been used: Van Ophuijzen in 1901 was the original spelling system, then the Soewandi system from 1947, and finally in 1972, in an Indonesian – Malaysian Language Agreement, the Ejaan Yang Disempurnakan (EYD: Improved Spelling) system. Knowing the older spelling systems is useful in understanding the different ways in which some personal names are written: Tjokroaminoto as to Cokroaminoto, Soeharto as opposed to rather than Suharto, Soerja rather than Surya.

At the initial stages, Indonesian grammar is relatively simple, because it does not have conjugation/tenses, plural, article, gender. It is a non-tonal language, and a non-hierarchical one: essentially the same vocabulary is used no matter to whom you are speaking or writing. Indonesian differs in this respect from Javanese, the first language of a majority of Indonesians, which has a hierarchical structure, and is seen by many modern Indonesians as a feudal language. However, advanced learners of Indonesian have to learn a complex system of affixation (prefixes, infixes and suffixes) and the list of exceptions and inconsistencies – though thankfully, although difficult to learn, these are not large in number. So the simplicity of the grammar at the beginning level is misleading, because this simplicity of the grammar makes it more difficult for the foreigners to be able to imitate the native speakers.

For native speakers of English, word order in Indonesian can be confusing. Thus for instance the adjective follows the noun, rather than precedes it: thus rumah merah, meaning red house, where rumah means house, and merah means red. Duplication can be used to create new words that differ in meaning: thus hati means heart (alongs other things) but hati-hati means to be careful.

Where is Indonesian spoken?


In the Republic of Indonesia, in East Timor, in Malaysia, Singapore and Brunei, some parts of the southern Philippines and the southern part of Thailand, and in the Australian territory in Christmas Island and Cocos Islands.

--by Iem Brown

Daftar Isi laman belajarindonesia.org

Thursday, December 29, 2011





Ihwal Penyerapan

Wednesday, December 28, 2011

Pengembangan kosakata akibat persentuhan bahasa terutama dilakukan lewat pemadanan makna. Proses itu dapat berupa penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan.

Jenis penerjemahan pertama dilakukan berdasar kesesuaian makna atau konsep, tetapi bentuknya tidak sepadan. Contohnya supermarket menjadi pasar swalayan, elevated highway menjadi jalan layang, interchange menjadi simpang susun. Penerjemahan jenis kedua dapat pula dilakukan berdasar kesuaian makna dan bentuk. Misalnya skyscraper menjadi pencakar langit, inorganic menjadi takorganik, dan bonded zone menjadi kawasan berikat.

Pemadanan cara kedua berlangsung lewat penyerapan. Seperti yang sudah ditegaskan lebih dulu, proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisnya karena tulisan dapat lebih bertahan daripada bunyi dalam lintasan ruang dan waktu. Di dalam tata ejaan yang baik diupayakan agar setiap huruf melambangkan satu bunyi bahasa. Kenyataan menunjukkan bahwa ideal itu sulit tercapai.

Abjad yang dewasa ini paling banyak dipakai oleh bahasa modern di dunia ialah abjad Latin. Karena tatabunyi Latin berbeda dari tatabunyi Melayu dan Indonesia, terjadilah beberapa modifikasi. Misalnya, huruf Latin dapat melambangkan bunyi /s/ dan /k/; huruf dan melambangkan bunyi /f/; huruf dan " melambangkan bunyi /k/; huruf melambangkan deret bunyi /ks/; dan deret huruf dan melambangkan bunyi sengau Melayu atau Indonesia."

Dengan memperhatikan catatan di atas, dapat dirinci empat jenis penyerapan. Pertama, penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal: internet, de facto, orbit, divide et impera. Kedua, penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal: bias /baiæs/: bias, nasal /neisæl/: nasal, laser /leisær/: laser, tanpa /tanpo/: tanpa. Ketiga, penyerapan dengan penyesuaian ejaan, tetapi tanpa penyesuaian lafal file: fail, design: desain, photocopy: fotokopi, science: sains. Keempat, penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal: manajemen, mikrofon, konstitusi, marinir.

Penyerapan yang bertolak dari bentuk visualnya ternyata tidak boleh ditafsirkan secara harfiah. Baik karena berlainan bahasa sumber maupun karena berlainan tatabunyi, seperti ulasan Samsudin Berlian, mau tak mau sering ada huruf yang harus diubah dalam proses penyerapan.

Masih ada satu jenis pemadanan yang berupa gabungan penerjemahan dan penyerapan. Contohnya pramutama, bar, swakelola, asam nitrat.

Masyarakat yang beradab bertumpu pada aturan, kaidah, dan ketertiban. Kita boleh setuju atau tidak, tetapi ketentuan itu kita patuhi. Begitu juga dengan kaidah bahasa adab.

KOMPAS, 17 Jun 2011. Anton M Moeliono, Pereksa Bahasa

A warrior for language

One can choose from an endless list of causes to fight for. Anton Moedardo Moeliono, who passed away Monday in Jakarta, chose the Indonesian language.

Anton, 82, was known as an expert in the language and an ardent campaigner for what he called the correct and proper use of Indonesian.

The Bandung-born man was once the director of the Language Institute and the Indonesian Language Guiding Council.

He was a familiar sight on the television screen in the 1970s, with appearances on state-owned TVRI’s Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia (The Cultivation of the Indonesian Language) broadcast.
Anton played a vital role in the country’s spelling reform and the making of the language’s improved spelling guide (EYD).

Anton’s effort to advocate for Indonesian was also channeled through a language column “Santun Bahasa” (proper language) published in Kompas from 1968 to 1971.

The Cornell University graduate led the Indonesian Language Center when Kamus Besar Bahasa Indonesia (Great Dictionary of the Indonesian Language) was published in 1988.

He also edited Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Standard Grammar of Indonesian), which was published the same year.

According to kompas.com, Anton, whose list of sobriquets include “the walking dictionary”, was also involved in the establishment of Atmajaya University.

The public became familiar with his moves to replace foreign words with local ones, with some even labeling him a purist for that reason. But, Anton claimed he had nothing against foreign words, especially if they sounded better than their Indonesian counterparts.

Some of the words Anton advocated are used commonly now, words such as kudapan (as a replacement for “snack”) and tenggat (to replace “deadline”).

His role as an academician assisted the rise of several of the country’s noted linguists such Benny H. Hoed and Hasan Alwi.

Anton died in his home after undergoing intensive treatment at Medistra Hospital.

Tempointeraktif.com reported that Bambang Kaswanti Purwo, a linguist from Atmajaya University, wrote in an email in June that Anton was hospitalized after a heart attack and diabetes.

“I want Indonesians to be proud of their national language, and making sure Indonesian is used is one of the most effective ways to safeguard it,” Anton said in an interview with The Jakarta Post in 2009.

Resource: Dina Indra Safitri, The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 07/27/2011

The miracle of Bahasa Indonesia and Arabic

It has always been the dream and wish of many Arabs that everyone should speak the same classical Arabic. Arabic dialects are considered by some Arab linguists to be a degenerate form of the language of the Koran, or of the Arabic supposedly spoken by the Prophet Muhammad.

In reality, however, Arabic dialects have always existed, even during the time of the Prophet Muhammad. It would actually have been an anomaly if the Arabian Peninsula would have been a homogeneous linguistic area.

For it is only normal that there are regional varieties in languages spoken over a larger territory. The Arabic of the Koran, therefore, was one of many varieties, also in the past. Language variations that existed at the time of the rise of Islam are even reflected in minor differences in readings of the Koran.

The Arab Islamic armies coming from the Arabian Peninsula and conquering Greater Syria and Mesopotamia, as well as North Africa, all brought their particular dialects with them, and they and their descendants “Arabized” the populations in the conquered regions in their own particular ways. Arabic dialects subsequently developed separately, growing further apart also as a result of language mingling with the various languages then spoken in the conquered territories; the highly diverse Arabic language of today is its natural result.

Among Arab nationalists, the ideal continues to be that all Arabs should speak the same classical language variety. The reality is, however, that nobody speaks classical Arabic, or modern, standard Arabic, as a mother tongue, be it at home or in other informal social environments. It would be unrealistic, therefore, to expect that classical Arabic will ever become the unified social language of the Arabs, which it has never been. Nevertheless, this desire remains of undiminished central importance as a unifying factor for the Arab world.

The development of Indonesian, (originally Malay), has historically been rather different from that of Arabic. A century ago, Malay was spoken only by a minority in the territory, which today constitutes the Republic of Indonesia. Less than 10 percent of the population spoke Malay as their natural, mother tongue; it was a majority language in particular parts of Sumatra only. From there, and from the Malaysian Peninsula, or the “Malay motherland” in the wider sense, it spread via tradesmen to limited areas elsewhere in the Indonesian archipelago where, over the centuries, it developed as a kind of traders’ lingua franca (Melayu pasar). It was only during the 1920s that Malay started to be developed into a new standard language, which was later named Bahasa Indonesia.

The initially somewhat artificial language was based on the former official language used in the royal correspondence of the Malay Johor-Riau Kingdom. This formal language, which was not a spoken, daily language like the Malay dialect of the Riau area, was further developed, initially by Dutch colonial linguists like Van Ophuijsen.

At a later stage, Indonesian nationalist linguists started playing an important role, some with a Sumatran Minangkabau Malay background, like Sutan Takdir Alisjahbana, as well as Indonesians from other regions. It resulted in a very successful example of “language planning”; it was a miracle that this language, originally labeled General Cultivated Malay, became, within a century, the official language all over Indonesia, from Sabang to Merauke.

It was a new language in the sense that it had not generally been written, let alone spoken, in this form in Indonesia before the Sumpah Pemuda, or Youth Pledge, of Oct. 28, 1928, or before the end of the Dutch colonial era. The language succeeded in attaining the strong position of a unifying language for most Indonesians.

Although it had apparently been the official intention to teach everyone the same standard Bahasa Indonesia, in practice various forms of colloquial Indonesian dialects developed as well. Malay dialects, which had already been spoken previously, remained relatively unaffected. Jakartan Indonesian developed into the most prominent and prestigious dialect. (It should be noted that Jakartan is not the same as Betawi, which is a much older Malay dialect spoken in Jakarta, formerly Batavia).

In theory, there had been the possibility for Bahasa Indonesia to achieve the ideal, which many Arabs had envisaged for their language, namely to have everyone speak one single official language as a mother tongue. In practice, however, things did not work out that way. This was probably also the result of the fact that teachers of Indonesian mixed the official language with regional elements of their own languages, or with their various Malay dialects.

Having studied only the official form of Bahasa Indonesia, I was surprised to discover that it is nowhere spoken spontaneously in its pure form as a home language or mother tongue. The differences between Bahasa Indonesia and the so-called dialects, whether considered “slang” or not, are generally big enough for non-Indonesians (who only know the official Indonesian) to not fully understand varieties of informal language. Conversely, something similar applies to less educated Indonesians, who may have difficulty in completely understanding the official language.

Is this a negative phenomenon? I think it just reflects the reality that dialects tend to develop next to an official language, and will almost inevitably keep existing alongside it.

This phenomenon, called diglossia, is known to exist in many countries, and as such, is to be perceived as a very normal thing, although this fact is not always recognized or acknowledged. Next to Bahasa Indonesia and a variety of colloquial Indonesian, there are also many Indonesians who know a regional language, such as Javanese, Sundanese or one of the other hundreds of local languages. In a language situation of this sort, we might even have to speak of triglossia, or even multiglossia. For instance, Javanese Indonesians are expected to be able to switch between three varieties, depending on the social context.

There is not much that can be done against diglossia or triglossia, or even multiglossia, except for — in the Indonesian case — creating a strong awareness that a high-level Bahasa Indonesia should be taught in schools and other educational institutions, with the message that it is a very beautiful and sophisticated form of Indonesian, which has played a vital role in uniting the people of Indonesia. This unifying role deserves to be well maintained, just as is the case with Arabic.

Language purists tend to want to enforce certain formal language forms. They can never dictate, however, what people speak at home, and efforts to impose their linguistic standards may even help create a dislike for the official language. What they, and others, can do, however, is to stimulate a strong affection for Bahasa Indonesia in such a way that the people of Indonesia will like to also speak this language in their daily lives.

Nikolaos van Dam, Chiclana de la Frontera, Spain.
The Jakarta Post, Friday, November 04, 2011.

English is Changing The Grammar Of Indonesian

Tuesday, December 27, 2011

If words are flesh and grammar is bones, then the flesh of Indonesian has an unmistakable English flavour by now. What you might not know is that English is shaping the bones of the language as well.

This is not a new thing for Indonesian. For the last century or so it has been absorbing new English-type structures. In the early days they came fromDutch, whose grammar resembles English in a lot of ways. Now they come from English instead and more are entering the language all the time. Let’slook at a few examples below.

1. “Talking …,” (present participle constructions)

One fairly new structure comes from imitating English sentences like:

--> Talking in front of journalists yesterday, he explained that …
--> Answering a reporter’s question, she denied …

We wonder for a moment, Who is talking? Only later in the sentence do wefind out: ‘he …’

Until recently, Indonesian had nothing like this. But nowadays in the presswe often read the same pattern:

--> Berbicara di depan wartawan kemarin, (dia …)
--> Menjawab pertanyaan wartawan, (dia …)

Formerly, you had to say something like ‘Dia berbicara di depanwartawan dan …”

2. “Located …,” (past participle constructions)

In the same way, a new structure has appeared to match English sentenceslike:

--> Located in the hills, that village is well-known for …
--> Arrested in his house at daybreak, Rusli did not try to …

Once again, we wonder at first, ‘What is located? And only later inthe sentence do we find out: ‘that village…’

In the Indonesian press nowadays we often come across the same pattern.

--> Terletak di perbukitan, desa itu…,
--> Tertangkap di rumahnya pada dini hari, Rusli …”

Formerly you would have had to say something like “Desa yang terletakdi perbukitan itu …”

3. adalah

Another structure comes from imitating this English one:

--> Tuti is a small child
--> They are good people

We do not simply say: “Tuti, a small child”. We insert a form ofthe verb “to be”, called a‘copula’.

Traditional Malay/ Indonesian does not put a word in that slot. You just say Tuti anak kecil, and so on. But Indonesians who knew Dutch started sometimes toinsert a copula when writing – namely adalah or ialah.

And due to recent pressure from English, this adalah is used by writers moreand more often nowadays, even in simple little sentences where it is not reallyuseful at all. So for example:

(a recent reader’s letter to a newspaper)

‘Saya adalah seorang karyawan swasta.
‘I am an employee of a private firm.’

(a recent short story by a well-known writer)

Saya adalah seorang tukang ketik pada Lembaga [X].
‘I am a typist at the [X] Institute.’

(Notice the unnecessary seorang in those examples too. It’s as if thewriters are reluctant to leave out any parts of the English sentence “I– am – a …”.

4. “a book which I will buy” (object relative clauses)

One quite new structure, bound to irritate many teachers, is a matter ofword order. It comes from imitating English phrases like:

--> a book which I will buy
--> questions which we can answer
--> a song which I once heard

Notice how the underlined part has the word order of an active sentence. Itsays “I – will – buy,” just like in the sentence‘I will buy a book’.

That order is not possible in traditional Malay/Indonesian. You have to sayinstead:

--> buku yang akan saya beli
--> pertanyaan yang bisa kita jawab
--> lagu yang pernah saya dengar

Why? Because you are not really saying ‘a book which I willbuy’. You are saying ‘a book which will be bought by me’. Itis passive, not active. And so those words saya- beli must stay together. Because saya beli, indivisible, means ‘be bought – by me’.

But now many educated Indonesians have started to say and write thingslike:

--> buku yang saya MAU beli
--> pertanyaan yang kita BISA jawab
--> lagu yang saya PERNAH dengar

This is a radical change, because now it is active, not passive. It says ‘book which I will buy’, ‘question which we cananswer’, etc, as in English.

As if that wasn’t bad enough for the purists, there are even signs oftotal surrender to English. I have found well over a hundred texts whereeducated Indonesians say or write things like buku yang saya akan membelipertanyaan yang kita bisa menjawab

The me- here on membeli, menjawab makes it an even more blatant copy of English. No-one could deny that it says “which I will buy”. Andalthough this ‘me-’ variant is still totally wrong according tomost careful speakers, it’s a new one to watch.

Translation effect

You may have guessed by now that the practice of translating texts from English is a big reason new structures enter Indonesian. News stories fromglobal agencies like Reuters are hastily rewritten in Indonesian byjournalists, best-selling works of fiction and non-fiction (e.g. thriller novels and guides like Rich Dad, Poor Dad) have mostly been translated just ascarelessly, with their English bones still largely intact. By reading this typeof thing, educated readers become more and more familiar with English-typestructures and start to use many of them themselves.

Let’s look at just two more borrowings from English:

5. “countries, children”

Indonesian has started to imitate this English feature:

--> book – bookS
--> country – countrIES
--> child – childREN

English marks nouns as plural, usually with “-s”, when referringto more than one.

In earlier Malay/ Indonesian as well, nouns were sometimes marked as plural, by doubling them and saying negara-negara, etc. But doubling nouns to showplural meaning was not common. For instances you didn’t say thingslike:

--> banyak negara-negara – ‘many countries’
--> beberapa murid-murid – ‘some pupils’
--> ratusan ribu anak-anak – ‘hundreds of thousands of children’

Why not? Because it is obvious you are talking about more than one country, pupil or child without a doubled noun.

But because Dutch marks nouns as plural even when the plural sense isobvious, some educated Indonesians started to do it even with words like banyakand beberapa.

And nowadays thanks to pressure from English you even hear it with numbers sometimes, such as ratusan ribu anak-anak – although purists object thatthe presence of a number like ratusan ribu makes doubling the noun simplywrong.


6. “it” (third person singular inanimate pronoun)


The last new structure we will look at is based on this English one:

--> I like that mosque. It was built nearly a thousand years ago.

To refer to the mosque the second time, we said “it” – theEnglish pronoun for non humans. There is no such word in traditionalMalay/Indonesian. But during the last few decades, some westernised writers have started to use dia or ia for the same purpose. Look at this sentence in a recent magazine article

(talking about the National Language Centre):

Sekarang namanya Pusat Bahasa. Dia tidak hanyamengurus bahasa Indonesia, tetapi
bahasa daerah.

‘Now its name is the Pusat Bahasa. Itdoesn’t only manage Indonesian, but also …’

And similarly, in the same magazine issue, we find:

Bahasa Indonesia bukan anugerah yang diturunkan dari langit. Dia adalah buah… Ia juga senjata …

‘Indonesian is not a gift that was handed down from the sky. It is thefruit of … It is also a weapon …’

In traditional Malay/ Indonesian we have to find a different way to conveythe meaning of “it” instead, such as saying:

… namanya Pusat Bahasa. Lembaga itu …(i.e. ‘… This institution …’)


Conclusion

No matter how you feel about this whole trend towards English-style grammar ,there is one minor moral to the story. If you’re a student who makes awise habit of trying to soak up natural sentence patterns by noticing them asyou read, avoid texts that are translations of English. They are often riddled with English structures that no Indonesian person would normally use. Original texts, on the other hand, still often contain structures recently borrowed from English – and those ones deserve your respectful attention. You might even like to try some out!

Pustaka

Badudu, Yus (1996) Dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. In Soenjono Dardjowidjojo (Ed.) Bahasa Nasional Kita. Bandung: ITB, pp 28-38
Hassall, Tim (in press) Taboo object relative clauses in Indonesian. In Paul Sidwell (ed.) SEALSXV: Papers from the 15th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society. Canberra: Pacific Linguistics.
Kaswanti Purwo, Bambang (1984) Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Kaswanti Purwo, Bambang (1996) Perkembangan sintaksis bahasa Indonesia.
In Soenjono Dardjowidjojo (Ed.) Bahasa Nasional Kita. Bandung: ITB, pp 192- 209
Moeliono, Anton M. (1992) Contact-induced language change in present-day Indonesian. Indonesian Studies 9 (1-2): 24-33
Sneddon, James (2003) The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: UNSW Press


source articel:

Dr. Timothy Hassall Website
Tim Hassall has a PhD in Applied Linguistics, an MA in TESOL, and a Graduate Diploma in Secondary Education. He coordinates and teaches courses on Indonesian language and aspects of Indonesian linguistics at the Australian National University, Canberra. His main research interests are the acquisition of second language pragmatics and the influence of English on Indonesian. He has published a number of articles in refereed journals and book chapters.

Tentang Bahasa Indonesia (Baik dan Benarnya)

Tuesday, November 22, 2011

Indonesia memiliki beranekaragam budaya. Misalnya tari, nyanyian, dan bahasa. Ada juga bahasa seperti: bahasa Minang, Jawa, Sunda, Batak dan sebagainya.
Untuk berkomunikasi antar suku bangsa, diperlukan satu bahasa yang dipahami secara Nasional. Bahasa Ini disepakati dalam isi sumpah pemuda yang salah satunya berbunyi: “Kami putera-puteri Indonesia mengaku berbahasa yang satu, Bahasa Indonesia.”

Bicara soal Bahasa Indonesia, sepertinya bahasa ibu negara kita ini sudah mulai dipinggirkan. Orang-orang, termasuk pelajar dan mahasiswa lebih cenderung menggunakan bahasa asing, bahasa gaul dan sebagainya. Bahkan, bahasa Indonesia juga sudah diobrak-abrik. Banyak kosa kata dalam bahasa Indonesia yang baru masuk. Misalnya penggunaan kata loe gue, jadul, jayus, jaim dan sebagainya.

Memang, kita nggak bisa menampik hal-hal tersebut. Ada satu yang perlu kita ketahui, yaitu rumus pembentuk Bahasa Indonesia. Rumus itu adalah BI=BM+BD+BA. Penjelasannya, Bahasa Indonesia adalah gabungan dari Bahasa Melayu, yang ditambah dengan bahasa daerah-daerah di Indonesia dan bahasa asing.

Mau bukti? Kenapa kita serumpun dengan Malaysia, karena akar bahasa kita sama, Bahasa Melayu. Soal bahasa daerah, ada buktinya. Contohnya kata kumuh dan merantau. Itu udah jelas dari Bahasa Minangkabau, yaitu kumuah dan marantau yang kini telah baku.

Jadi, nggak nutup kemungkinan suatu hari nanti kata loe, gue, jayus dan beragam bahasa gaul atau bahasa daerah lainnya bakal jadi Bahasa Indonesia yang baku. Ingat-ingat, bahasa adalah ilmu yang dinamis, berubah dan berkembang seiring zaman. Ada kata baku yang baru, ada yang tergantikan, dan yang menghilang.

Sebut saja Ana yang sehari-harinya selain berbicara dengan bahasa Minang, ia juga berbicara dengan bahasa Indonesia. Hanya saja bahasa Indonesia yang ia gunakan sehari-hari bukanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Kalau bahasa Indonesia yang kita pahami sebagai bahasa Indonesia yang baik dan benar itu kesannya agak jadul gitu. Makanya aku pakainya yang digunakan oleh banyak orang aja. Dibilang bahasa gaul, menurut aku nggak sih. Soalnya banyak juga orang yang menggunakan bahasa tersebut,” ujarnya.

Wah, sepertinya harus ada yang diluruskan nih. Kita mesti tahu, apa itu sebenarnya Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik yang dimaksud di sana adalah sesuai dengan kaidah dan ragam bahasa yang digunakan. Benar yang di maksud di sana adalah sesuai dengan situasi dalam berbahasa. So, kalau kita berada dalam situasi resmi atau formal, gunakanlah Bahasa Indonesia ragam resmi atau ragam baku. Sebaliknya, kalau berada di situasi non formal, kayak lagi curhat atau ngobrol biasa dengan teman, ya gunakan Bahasa Indonesia ragam akrab atau ragam cakapan.

Justru dalam situasi nonformal malah menggunakan Bahasa Indonesia ragam resmi atau ragam baku, maka tidaklah Berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bahasa Indonesia, Pentingkah?

Monday, November 21, 2011

Saat ini, kalau kita perhatikan pemimpin-pemimpin di Malaysia berpidato, sebagian besar gaya bahasa mereka sudah hampir serupa dengan gaya bicara pemimpin-pemimpin di Indonesia. Apalagi kalau kita ambil contoh tokoh Anwar Ibrahim. Gaya pidatonya sudah hampir tidak dapat dibedakan dengan gaya orang Indonesia. Malah kalau saya perhatikan gaya pidato orang Indonesia justru semakin buruk. Dalam pidato resmi banyak sekali diselipkan kosakata bahasa Inggris atau istilah yang keinggris-inggrisan.

Jurnalis, Menulis dengan Daya Pikat

Pada dasarnya bahasa jurnalistik dibangun berdasarkan kesadaran akan terbatasnya mang dan waktu. Dalam jurnalistik dituntut kemampuan komunikasi yang cepat dalam ruangan dan waktu yang sangat terbatas. Istilah populernya adalah ekonomi kata. Kata dibuat seringkas mungkin, dengan kemampuan mengkomunikasikan ide seefisien mungkin.
Perlu dicatat, bahwa media massa pada umumnya berupaya memasukkan item berita sebanyak mungkin. Kian banyak item berarti berita yang dimuat kian banyak. Itu artinya setiap tulisan harus berdesak-desakan dan bersaing untuk bisa dimuat dalam ruangan yang terbatas.


Belakangan ini bahasa jurnalistik cukup mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Apalagi di beberapa penerbitan dan media massa besar secara struktural ada seorang redaktur bahasa. Kata dan kalimat yang umum dijumpai dalam makalah jelas tidak memiliki tempat dalam bahasa jurnalistik. Apalagi dalam model bertutur yang berputar-putar dan terlalu banyak menggunakan peristilahan asing. Juga kalimat-kalimat versi pejabat yang membingungkan dan jargonis, kecuali untuk bahan kutipan, sama sekali mubasir.
            Karena keterbatasan ruang    dan waktu, alinea dalam penulisan jurnalistik harus pendek. Bahasa yang dipergunakan mesti lugas. Setiap alinea terdiri sekitar 4-5 kalimat. Setiap kalimat harus diusahakan tak lebih dari 12 kata.
            Ekonomi kata yang berlaku sebagai kaidah baku dalam bahasa jurnalistik harus memenuhi dua ketentuan, yaitu harus hemat dan jelas. Contoh:

1) Ada beberapa kata yang sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa
    dan kejelasan artinya.
            Misal:
   agar supaya -------- cukup ditulis: agar, supaya
               tidak-----------------    tak
   akan tetapi ---------   tapi
   bilamana-----------    bila
   menjadi ------------    jadi
   sehingga-----------     hingga
   walaupun----------     walau

2) Kata daripada atau dari pada seringkali bisa disingkat dan cukup ditulis dari.
            Misal:
"Keadaan di jaman kolonial Belanda lebih baik daripada sekarang". (Bisa ditulis menjadi: "Keadaan jaman kolonial Belanda lebih baik dari sekarang").
   
    Kerap digunakan juga kata ketimbang sebagai kata dari pada. Tapi kata dari di sini
    sesungguhnya lebih hemat.

3) Pemakaian kata dari sebagai terjemahan dari of (Ing.) yang sering disalahkaprahkan
    para "pejabat" dengan pengucapan daripada bisa ditiadakan. Kata ini banyak
    berhamburan dari mulut pejabat seringkali mengesankan sebagai sebuah      
    "kebingungan" atau "kegagapan".
            Misal:
"Hal ini adalah amanat langsung Bapak Daripada Pembangunan". (Bisa disingkat jadi: "Hal ini adalah amanat langsung Bapak Pembangunan).

"Gunung Kidul merupakan wilayah daripada Yogya". (Bisa disingkat jadi: "Gunung Kidul merupakan wilayah Yogya").
 
"Kita harus menghormati hak-hak daripada azasi," ucap Menpen Harmoko dalam temu kader minggu lalu. (Bisa ditulis: "...hak-hak azasi...")
 
4) Ejaan yang salah kaprah bisa dibetulkan justru dengan cara menghemat kata.

           Misal:
           sjah......…….   sah
           khawatir…....  kuatir
           akhli…….......  ahli
           tammat…......  tamat

5) Mengganti kata dengan sinonim yang lebih pendek.

           Misal:
            makin...…….  kian
            sekarang……  kini
            demikian……  begitu
            terkejut…....    kaget
 
6) Penghematan juga bisa dilakukan pada struktur kalimat. Kata di awal kalimat yang
    tak diperlukan bisa dihapus.
Contoh:
"Adalah merupakan kenyataan, bahwa aktor politik berubah tapi sistemnya tetap". (Bisa disingkat menjadi: "Merupakan kenyataan, bahwa  ")
 
"Apa yang dikatakan Presiden Bush tidak jelas". (Bisa disingkat: "Yang .dikatakan Presiden Bush .... ").
 
7) Pemakaian apakah atau apa (pengaruh bahasa Jawa) bisa ditiadakan.
Misal:
"Apakah nasib pers Indonesia akan terus tergantung pada kebijakan Harmoko". (Bisa ditulis: "Akan terus tergantungkah nasib pers Indonesia ....").

"Baik kita lihat, apakah Menpen dia di kantor atau tidak". (Bisa disingkat: "Baik kita   lihat, Menpen di kantor atau tidak").

8) Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Ing.) bisa dihapus.
Misal:
"Komnas HAM cenderung untuk mengakui adanya kesalahan prosedural ABRI di Aceh " . (Bisa disingkat: "Komnas HAM cenderung mengakui . .).

            "Upaya mantan Menhut Soeripto menggugat Gus Dur itu mudah untuk
dipahami".  (Bisa ditulis: Upaya mantan Menhut Soeripto menggugat Gus Dur itu mudah  dipahami").

9) Pemakaian adalah sebagai terjemahan is dan are seringkali bisa ditiadakan.
Misal:

"Tugas ABRI seharusnya adalah membela rakyat". (Bisa ditulis: "Tugas ABRI seharusnya membela rakyat").


10) Pemakaian akan, telah, sedang, tengah sebagai penunjuk waktu bisa dihapus bila
      ada keterangan waktu.
Misal:
"Para wartawan besok akan diajak meninjau keadaan di Tobelo". (Bisa ditulis: "Para wartawan besok diajak ...").

            "Tadi telah dikatakan ...". (Bisa ditulis: "Tadi dikatakan...").
 
"Kini Presiden Megawati sedang sibuk mempersiapkan pengamanan Suksesi 2004". (Bisa ditulis: "Kini Presiden Megawati sibuk .... ").
 
11) Kata yang sebagai penghubung kata benda dan kata sifat dalam konteks kalimat
      tertentu bisa ditiadakan.
Misal:
"Kami adalah pewaris yang sah dari Indonesia Proklamasi 45". (Bisa ditulis:  "Kami pewaris sah Indonesia Proklamasi 45").
  
"Australia harus menjadi tetangga yang baik dari Indonesia". (Bisa ditulis: "Australia harus menjadi tetangga baik Indonesia").
  
12) Kata bahwa kadang tidak diperlukan.
            Misal:

            "Anggota Komisi V DPR RI, Tajuddin Noorsaid membantah desas-desus yang

mengatakan bahwa ia akan direcall". (Bisa ditulis: "Anggota Komisi V DPR RI,   Tajuddin Noorsaid membantah desas-desus yang mengatakan ia akan direcall").
 
13) Pembentukan kata benda (ke-an atau pe-an) yang berasal dari kata kerja atau kata
      sifat, atau kata kerja (me-an) yang kerap menambah beban kalimat bisa    
      dihapuskan.
Misal:
"Tanggul Ciliwung kemarin mengalami kebobolan. (Bisa ditulis: "Tanggul Ciliwung kemarin bobol").

"Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap rakyat Indonesia". (Bisa ditulis: "Ia telah tiga kali menipu rakyat Indonesia).

14) Kata-kata "sampah" di mana, pada siapa, dengan siapa, di mana di sini, yang
      mana yang ini, dll (akibat pengaruh kata asing) bisa dibuang total.
Misal:
"Penyakit AIDS dianggap berasal dari Haiti tempat di mana komunitas kaum gay paling besar". (Bisa ditulis: Penyakit AIDS dianggap berasal dari Haiti tempat komunitas gay paling besar").

"Dalam pidato Sukarno di mana di situ secara jelas dikatakan Indonesia bakal keluar dari PBB". (Bisa ditulis: "Dalam pidato Sukarno secara jelas dikatakan Indonesia akan keluar dari PBB").
 
15) Kata "di...kan" (pasif    ) yang diikuti oleh bisa dihilangkan kadang dengan cara
      mengaktifkannya. Kata oleh yang ditempatkan dalam kalimat pasif seringkali bisa
      dibuang begitu saja.
Misal:
"Acara ini dipersembahkan oleh kacang Cap Dua Kelinci" (Bisa ditulis: "    Acara ini persembahan kacang Cap Dua Kelinci").

"Karena sakit-sakitan, Amir dilarang oleh ayahnya naik gunung", (Bisa ditulis: " ..dilarang ayahnya naik gunung" atau diaktifkan menjadi: Ayah melarang Amir naik gunung karena  sakit-sakitan).

16) Kontaminasi kata adalah penempatan kata yang tidak tepat yang kerap
      menimbulkan kerancuan kalimat. Pembetulan kontaminasi kerap merupakan    
      efisiensi kalimat.
Misal:
"Sementara kalangan, terutama pengusaha kecap, memuji produk mereka tetap nomor satu."
("Sementara" di sini bisa diartikan sebagai waktu, tapi sebenarnya diartikan sebagai "sejumlah" atau"beberapa").

Kerancuan kerap juga merupakan kombinasi dua kata sebagai berikut: "demi untuk", "agar supaya", "berhubung karena", "disebabkan oleh". Semuanya bisa
            dihilangkan kata ke duanya.

17) Pemakaian tanda baca yang berlebihan, meski benar versi EYD, bisa diabaikan.
Misal:
"Direktur Elsam adalah Bapak Abdul Hakim Garuda Nusantara, S.H. L.LM,
sedangkan anggota boardnya antara lain Ir. Agus Rumansara M.Sc.
(bisa ditulis sebagai ..Abdul Hakim Garuda Nusantara SH LLM, sedangkan anggota boardnya adalah Ir Agus Rumansara MSc.

18) Penggunaan kata “banyak” yang diikuti kata ulang (jamak) adalah merupakan
fenomena hiperbolis dari penjamakan sebuah kata. Kata “banyak” bisa dihilangkan atau mengubah kata ulangnya (jamak) menjadi kata tunggal.
            Misal:

“Banyak tokoh-tokoh politik saat ini lebih mempertimbangkan besarnya tunjangan ketimbang mewakili konstituennya.”

(bisa ditulis: “banyak tokoh ……” atau “para tokoh…..” atau “tokoh-tokoh….”)

19) Penghematan huruf seringkali bisa dilakukan dengan cara membetulkan
kerancuan kata yang salah, terutama pada kata kerja yang luruh akibat awalan
“me”.
            Misal:
“memperkirakan” …..dibetulkan sebagai “memerkirakan”
“mempukul”…………dibetulkan sebagai “memukul”
“memperkarakan” …….dibetulkan sebagai “memerkarakan”

Jelas Pangkal Dibaca

            Kejelasan, selain faktor kelengkapan 5 W 1 H, merupakan unsur penting dalam bahasa jurnalistik. Ekonomi kata tak akan tercapai bila tidak ada kejelasan dalam hal menulis. Ketidakjelasan pada kalimat pertama, yang kemudian diulang pada kalimat berikutnya, akan membuat seluruh tulisan tak dibaca.
Untuk sebuah kejelasan tulisan diperlukan pemahaman si penulis akan persoalan yang akan ditulis. Selain itu, si penulis harus memiliki kesadaran akan karakter pembaca dan segvmentasi pasarnya.
Memahami betul persoalan yang akan ditulis, berarti menguasai bahan penulisan dalam sebuah kerangka sistematik. Tulisan tak boleh kacau. Kalimat-kalimatnya tak boleh serba melayang. Bumbu- bumbu cerita yang tidak relevan harus dibuang.
Penulisan yang kurang bahan akan menghasilkan tulisan yang mengambang. Tapi ada kemungkinan terlalu banyak bahan, akan membuat orang kesulitan menulis. Apalagi kalau panjang tulisan telah dibatasi.
Dalam penulisan jurnalistik, bahan saja tak cukup karena harus disertai informasi faktual dan detil hasil pengamatan, wawancara. Tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat teknis komposisi, antara lain tanda baca yang tertib, ejaan yang tak terlalu menyimpang dari standar dan pembagian tulisan secara sistematik dalam bentuk alinea-alinea.
Kejelasan meliputi dua hal, yaitu unsur kata dan unsur kalimat. Antara lain dengan berhemat terhadap kata-kata asing. Kata asing yang tak perlu bisa dihilangkan, terutama apabila pembaca kemungkinan telah mengerti. Kalau tidak bisa, gantikan dengan kata padanan yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Misalkan: reshuffle, approach, single, program-oriented, meter per square dan sebagainya. Kata "cutbrai" atau "komprang" lebih dimengerti ketimbang bell-bottom.
Demi kejelasan, pemakaian akronim secara berlebihan dan "sewenang-wenang" harus dihindarkan. Kecenderungan "bangsa" Indonesia adalah suka menyingkat, mengakronimkan sesuatu. Bahkan belakangan ada kekecenderungan mengakronimkan akronim. Jelas ini sebuah tindakan sewenang-wenang. Contoh yang ekstrem adalah Inpres (sebuah akronim) Desa Tertinggal disingkat menjadi IDT. Juga ABRI Masuk Desa disingkat menjadi AMD.[3]
Ada pula akronim yang dibuat sedemikian rupa hingga melecehkan kaum perempuan dan mengarah ke sarkasme seks, misalkan "gersang" (segar merangsang), "pentil kecakot" (penjaga telepon kecamatan kota), "susu tante" (sumbangan sukarela tanpa tekanan), "sikondom panjang" (situasi, kondisi, domisili, pandangan dan jangkauan), "kutilang darat" (kurus, tinggi, langsing, dada rata) dan sebagainya. Akronim seperti ini, atau akronim apapun, sebaiknya dihindari karena bisa menimbulkan gangguan dan kesalahpahaman pada pembaca. Coba saja baca kalimat di bawah ini:

           “Cinkom merumuskan keruk nasi melalui jagungnya dengan semboyan gepeng dan menghindar dari sasus. Pengrah mendukung dengan sebuah deklarasi yang
disesuaikan dengan sikon. Hanra dan wanra bersatu membentuk barberi."

Apa Anda tahu maksudnya?! Barangkali untuk mengerti kita mesti mengurai kumpulan akronim yang ada di kalimat tersebut yaitu "Cinkom = Cina komunis", "keruk nasi = kerukunan nasional", "jagung = jaksa agung", "gepeng = gerakan penghematan", "pengrah = pengawal merah", "hanra = pertahanan rakyat", "wanra = perlawanan rakyat", "sikon = situasi dan kondisi", "barberi = barisan berani mati". Betapa memusingkannya!
Pemakaian kata majemuk atau jamak (yang seringkali ditulis dalam bentuk kata ulang) sebisa mungkin harus dihindarkan. Kata majemuk seringkali bisa digantikan dengan kata bilangan.
Contoh:
"Pada malam takbiran terdengar beduk bertalu-talu di langgar-langgar, surau-surau dan keesokan harinya setiap rumah akan banjir ketupat-ketupat, opor-opor ayam, daging-daging semur, gulai-gulai kambing untuk disantap bersama". (Bisa ditulis: "Pada ..bertalu-talu di setiap langgar dan surau dan keesokan harinya setiap  rumah akan banjir berbagai ketupat, opor ayam, daging semur dan gulai kambing untuk disantap bersama).

Perlu juga dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia sebuah kata tak memiliki istilah gender sebagai sejumlah bahasa asing. Dengan demikian istilah mahasiswa-mahasiswi, pemuda-pemudi, raksasa-raksasi bisa ditiadakan dan diganti dengan bentuk kata jamak seperti “para” dan sebagainya.

Pemilihan Judul

                Judul yang digunakan sebaiknya tidak lebih dari 5 kata. Idealnya hanya 3 kata saja. Judul yang terlalu panjang akan meminimalisir berita karena judul umumnya ditulis dengan huruf yang berukuran besar.  Namun, jangan pula demi efisiensi, kita membuat judul hanya satu kata seperti semua tulisan Putu Wijaya dan sebagian besar “Catatan Pinggir” Gunawan Mohamad di majalah Tempo.
Judul sebaiknya eye catching (menarik perhatian) agar berita bisa menarik perhatian, namun hindarkan kemungkinan terjadinya pemlesetan makna (misleading) yang membuat pembaca membuat penafsiran yang melebihi fakta sesungguhnya.

Bentuk Penulisan
            Untuk mengoptimalkan penulisan jurnalisme lingkungan, sebaiknya penulisan menghindari model hardnews atau straight news dan lebih memilih untuk menggunakan gaya news features atau features. Sebab pada model hardnews, sebagaimana bisa dijumpai pada berita yang diproduksi kantor berita, berita yang disajikan umumnya adalah kering dan membosankan. Selain itu juga tak memberikan nuansa dan detil yang mampu menguras perasaan dan empati pembaca.
            Untuk menulis sebuah  news features atau features jangan lupa untuk memperhatikan lead pada kalimat pertama berita kita. Binatang apakah lead itu?
Lead adalah beberapa kalimat yang ada di bagian paragraf pertama sebuah tulisan, entah berita (straight news/ hard news), feature atau pun news feature. Lead merupakan sebuah bagian tulisan yang digunakan untuk menangkap minat pembaca. Bisa diandaikan, seseorang menulis tanpa lead itu ibarat orang memancing tanpa kail.
Jadi lead berfungsi untuk mengail pembaca. Setiap wartawan sadar akan vitalnya lead, terutama dalam tulisan feature dan news feature. Lead mempunyai fungsi, selain untuk menarik pembaca agar mengikuti cerita, juga untuk membuat jalan alur cerita menjadi lancar.
            Problem yang kerap dihadapi dalam menulis lead adalah pemilihan kombinasi kata-kata yang harus piawai. Pengobralan kata akan membuat menjadi tak efektif.
Bandingkan 2 lead ini:
1.      “Mata yang coklat dan dingin itu kian mengecil seperti sipit, ketika mengamati sebuah wajah. Ia seolah-olah menembus tempat tersembunyinya kejahatan. Itulah mata seorang polisi.”
2.      “Inspektur Suseno mempunyai mata yang dingin hingga bila melihat seseorang seolah-olah menembus pikiran orang yang dilihat. Inspektur Suseno punya pandangan yang bermata dingin, yang tampaknya unik di kalangan sesama polisi.”

Mana yang lebih menarik? Tentu yang nomor satu. Kenapa?!
            Lead juga harus punya nyawa dan tenaga.. Lead harus menggunakan kata aktif, terutama yang ringkas dan hidup agar memberikan kekuatan untuk “bergerak”. Kata sifat (seperti “ramping”, “ringsek”, “montok”, “mengkilat”, dll) bisa memberikan andil untuk mempercantik dan menambah vitalitas lead.

Lead Sebagai Senjata
Seorang wartawan mempunyai banyak cadangan senjata lead, puluhan mungkin ratusan jumlahnya. Sebagian digunakan untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik keingin-tahuan pembaca, sebagian lagi digunakan untuk mengaduk imajinasi pembaca. Namun demikian, seorang wartawan jarang menyadari lead apa yang digunakannya dalam menulis.
            Untuk itu lah barangkali kita perlu meneliti keragaman berbagai jenis kail aneh yang kita sebut sebagai lead ini.

Lead Ringkasan
Lead ini biasa digunakan dalam penulisan berita keras. Yang ditulis biasanya hanya inti cerita. Pada pembaca diserahkan keputusan untuk terus membaca atau tidak, berminat atau tidak. Lead jenis ini kerap digunakan bila sang wartawan punya persoalan yang kuat dan menarik. Lead ini gampang dibuat, hingga biasa digunakan oleh para wartawan yang buru-buru karena diuber deadline atau bila sedang kebingungan mencari lead yang lebih baik.

Contoh:
“Latar belakang pendidikan agama dan hobinya berjudi semasa muda merupakan kombinasi yang bikin polisi Dede Isharuddin jadi musuh yang berbahaya bagi para penjudi di kawasan Tanjung Priuk”. (Dari kalimat ini pembaca bisa menduka bahwa cerita selanjutnya adalah pertarungan antara kepala polisi dengan para penjudi di Priuk).

Lead Bercerita

Jenis ini digemari para penulis cerpen atau novel sebab selalu menarik sekaligus membenamkan pembaca. Cara pembuatannya adalah dengan melukiskan suasana dan membiarkan pembaca jadi tokoh utama. Bisa dengan cara menciptakan kekosongan yang kemudian secara mental dengan sendirinya akan diisi oleh pembaca. Atau membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah-tengah kejadian yang berlangsung. Hasilnya, kita yang seperti menyaksikan adegan film seorang koboi jagoan tengah kehausan di padang pasir, betul-betul merasa dahaga luar biasa. Misalnya film Exorxist yang tengah kita tonton, maka kita merasakan bahwa setah berada di keliling kita.


Contoh:
Batu-batu besar menengadah mengancam sekitar 60 m di bawah, sementara desis angin seperti ingin mendorong orang terbang ke bawah. Secara periodik batuk kronis kawah Mahameru menimbulkan getaran kecil yang membuat butiran pasir lereng Arcapada berlarian ke bawah. Saat itu Bambang tengah berjuntai di ujung tambang pada lereng curam”.

Contoh lain:
“Petugas Satpam Gimin melihat dengan gemetar ke arah laras senjata perampok, kemudian meloncat ke samping secepat lompatan kucing sambil mendepak senjata itu. Seperti dalam film Django, ia kemudian mencabut revolver di pinggang dan menembakkannya.”.

Lead Tudingan Langsung
Lead ini mengajak komunikasi langsung dengan pembaca. Pada lead jenis ini kerap ditemukan kata “Anda” yang disisipkan pada paragraf pertama. Kelebihan lead jenis ini adalah “memaksa” pembaca untuk terlibat meski kerap tidak secara rela. Pembaca sering merasa ditantang dan dipaksa masuk ke cerita.

Contoh:
Anda kira, Anda warga yang taat pada hukum. Mungkin. Tapi Anda, seperti yang lain juga, ternyata melanggar hukum beberapa kali”.

Lead Penggoda
Lead jenis ini digunakan sebagai alat pemikat dengan cara mengelabui pembaca lewat gurauan segar. Tujuan utamanya tak lain adalah menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya agar membaca seluruh cerita. Lead jenis ini biasanya ringan dan pendek. Umumnya digunakan teka-teki yang bikin pembaca penasaran.

Contoh:
“Ia memiliki 200 kaki, seribu jari kaki, seratus hidung dan beberapa terompet”. (Pembaca akan bertanya-tanya, cerita apakah yang bakal dihadapinya. Mahluk aneh atau apa? Ternyata si wartawan ingin bercerita tentang barisan drum band Indonesia yang sedang berbaris di Festival Pasadena, bukan tentang serangga apalagi monster).



Contoh lain:
“Wanita berhidung tinggi itu bilang, “Ogah, ah,” tapi toh mau juga”. (Barangkali pembaca akan terkecoh dan menduga ia tengah membaca cerita tentang seorang perempuan nakal, atau selingkuh seorang tokoh wanita. Tentu saja ini salah, karena si wartawan ingin cerita tentang seorang perempuan bangsawan Inggris berusia 71 tahun yang selama 40 tahun menampik pinangan Sir Charles Birmingham, 75, yang masih tergolong keluarga kerajaan).

Selain itu masih ada berbagai jenis lead lain. Antara lain lead pasak, lead kontras, lead pertanyaan, lead deskriptif, lead stakato, lead ledakan, lead figuratif, lead epigram. Lead literer, lead parodi, lead kutipan, lead dialog, lead kumulatif, lead suspensi, lead urutan dan lead sapaan.
            Di luar lead yang telah disebut masih banyak lead lain yang belum pernah diteliti secara cermat dan ditandai oleh para pengamat bahasa (pers). Namun sesungguhnya para wartawan setiap hari secara naluriah terus melahirkan berbagai bentuk dan kombinasi lead baru.

Jangan Lupa: Memberi Jiwa Pada Tulisan
            Wartawan yang berpengalaman selalu berupaya memberi jiwa pasa setiap tulisan yang dibuatnya, seperti halnya cerita tentang Tuhan yang meniupkan nafas kepada tanah lempung saat penciptaan Nabi Adam. Namun pada kenyataannya bentuk tulisan juga mempengaruhi apakah kita punya peluang untuk melakukan “tiupan kehidupan” pada sebuah tulisan atau tidak.
            Sebuah tiupan kehidupan bisa diberikan dengan cara menampilkan sisi kemanusiaan dari obyek cerita/tokoh yang sedang ditulis.

Contoh:
            “Ia adalah deorang anak yatim piatu yang diasu paman dan bibinya. Orang tuanya dibunuh seorang penyihir jahat saat ia  mesih berusia beberapa hari. Tubuhnya kerempeng, rambutnya yang tumbuh secapt selalu awut-awutan. Penampilannya selalu aneh. Hingga usia 11 ia lebih mirip seekor kucing kudisan. Tgempat tidurnya adalah sebuah lemari kecil di bawah tangga rumah sang paman…..dst.”

            Cara lain adalah lebih banyak membuat deskripsi suasana, ruang dan kejiwaan. Istilah kerennya, kita mesti menulis secara naratif (narative journalism). Untuk melakukan hal ini kita membutuhkan sebuah pengamatan yang baik.
            Setting atau latar menjadi penting dalam sebuah tulisan. Misalnya pabrik, ruang kantor, ruangan kelas, lapangan bola, toko dan sebagainya dalam tulisan sedapat mungkin harus dideskripsikan, meski tak perlu secara panjang-lebar. Deskripsi pokok biasanya mengenai besar kecilnya latar tersebut. Misaalnya sedapat mungkin dengfan ukuran, bila perlu dengan sebuah perbandingan (umpamanya: Vatikan yang luasnya hanya satu setengah kali kompleks Senayan).
            Deskripsi lain menyangkut detil yang dapat dipakai untuk mendukung (bukan sekadar mewarnai) lukisan pribadi sang tokoh atau persoalan yang tengah dibicarakan. Misalnya di ruangan itu ada benda antik, personal komputer, koleksi buku, atau kalender bergambar perempuan telanjang, atau kursi yang sudah jebol; ataukah di halaman pabrik itu banyak besi tua yang menumpuk, dsan di kamar guru itu banyak map berantakan. Ambil satu-dua detil yang paling mencolok, paling khas, paling mendukung suasana atau gambaran yang ingin kita kemukakan.
            Anekdot juga kerap menunjang penuturan bergaya naratif. Karena itu berupayalah memperoleh dan menyajikan anekdot yang sesuai dengan arah cerita yang tengah dibuat. Dalam hal ini, anakdot tak selamanya merupakan cerita yang lucu. Anekdot berarti tiap cerita kecil yang menarik, untuk menunjang suatu hal yang ingin kita kemukakan. Misalnya, para anggota pemadam kebakaran yang sambil menunggu matinya api Gedung Sarinah di Jakarta yang tengah terbakar, main catur. Atau seorang pengusaha muda yang sukses yang bila memasuki ruangan kerjanya setiap bahawan berdiri dari kursi dan mengucapkan “Selamat Pagi” sambil menyilangkan tangan kanan di kening.
            Kian kaya tulisan sebuah cerita dengan anekdot, kian memikat dan kian hidup tulisan kita. Tulisan kita akan penuh warna-warni. Untuk itu pergunakan juga kiutipan untuk memberikan munculnya nafas kehidupan pada tulusan. Namun poerlu diingat, kutipan jangan terlalu banyak dan berlebihan, jangan terlalu panjang. Upayakan memilih kutipan yang paling khas untuk sang tokoh, atau yang paling lucu, bijak dan cemerlang.
            Terakhir. Jangan lupa untuk senantiasa mengemukaakan alasan, kenapa cerita kita ini layak untuk dikemukakan pada pembaca. Karena unik? Karena Besar? Karena pertama kali? Karena sedang hangat? Dan seterusnya.*** 



[1] Masalah ini lebih detil bisa dibaca pada Djatfar H. Assegaff, Jurnalistik Masa Kini, Ghalia Indonesia,
1991 (Cetakan ke Tiga) dan sebuah tulisan yang banyak saya pakai yaitu Goenawan Mohamad, “Bahasa Jurnalistik Indonesia” dalam Christianto Wibisono (penyunting), Pengetahuan Dasar Jurnalistik, Penerbit Media Sejahtera, 1991 (Cetakan ke Dua).

[2] Misalkan kalimat yang terdiri dari kumpulan losa kata baku seperti "pembangunan", "tinggal landas",
"delapan jalur pemerataan", "peran serta", "swadaya", "dalam rangka", "demi suksesnya program ...",
"untuk menunjang", "menumbuh-kembangkan" dan lain- lain. Juga kalimat slogan yang sesungguhnya
merupakan sebuah silogisme tak jelas seperti "memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan
masyarakat".

[3] Bersamaan dengan munculnya "budaya" eufemisme pers di jaman Orde Baru (berlawanan: di jaman
Orla yang muncul fenomena hiperbolis bahasa jurnalistik), muncul pula kebiasaan mengartikan
akronim resmi versi pejabat dengan arti yang menyiratkan sebuah fenomena budaya tanding (counter
culture). Kita bisa melihat bagaimana di jaman "Orde Daripada", PKK diplesetkan sebagai
"Perkumpulan ibu-ibu Kurang Kerjaan", KUHP diplesetkan sebagai "Kasih Uang Habis Perkara ',
PJPT diplesetkan sebagai "Pikun Jompo Peot Tua", RCTI diplesetkan sebagai "Ramai Ceritanya Tiba-tiba Iklan" atau "Raja Turunan Iblis". Atau falsafah Tut Wuri Handayani yang diplesetkan sebagai
"Mbak Tutut wira-wiri harus dilayani". Lihat juga munculnya fenomena bahasa Prokem di kalangan
anak muda, yang oleh sejumlah media massa diakomodir sebagai sebuah rubrik tetap. Contohnya
"Pojok Ngalam" (dari asal kata "Pojok Malang") di Harian Surya terbitan Surabaya. Atau mode
penggunaaan bahasa asing dalam komunikasi verbal yang mengesankan nada kocak sekaligus kabur,
misalnya pra one two land untuk "perawan tulen", see kill untuk "sikil" (Jw: kaki), read one untuk
- Ridwan" dan sebagainya. Juga bahasa plesetan ala Yogya yang sering justru sengaja menyalah-artikan sebuah pengertian dengan pengertian yang baru sama sekali, misalnya "ICMI" jadi "Icmi (Ismi) Azis". Atau sekadar menyambung kata dengan sejumlah kata lain yang memberikan makna baru, misalnya "Jangan begitu lha yauw" diteruskan dengan "Lha yauw (layu) sebelum berkembang". Secara konsep, "plesetan" seringkali diartikan sebagai penggelinciran kata didasarkan pada kemiripan bunyi yang kemudian menghadirkan makna baru yang betul- betul berbeda. Kata-kata ini bisa diteruskan secara sambung- menyambung hingga membentuk kata-kata populer (bisa pribahasa, bisa lagu, bisa sapaan dll) yang "terpeleset" beberapa hurufnya. Misalkan saja kata "hamil" bisa lantas menjadi "hamil
menyelam minum air", "air love you", "love you sebelum berkembang", "gembang dandang gula", "gula niki sinten" dan seterusnya.
Daniel Dhakidae dalam sebuah makalahnya memberikan contoh bagaimana kata-kata dalam bahasa
jurnalistik kehilangan makna akibat pengakroniman yang semena-mena. Ia memberikan contoh sebuah
parodi Kompas yang dibuat dengan merujuk peristiwa berkaitan dengan pengalaman Direktur Jendral
Departemen Kebudayaan (dulu), Dr. Haryati Subadio, ketika menonton pertunjukan debus dari Banten,
yang konon ketakutan setengah mati (Kompas, 1 Februari 1984). Headline tulisan tersebut adalah "Bu
Dirjenbud Depdikbud dagdigdug". Lihat Daniel Dhakidae, "Bahasa, Jurnalisme dan Politik Orde Baru"
dalam Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim, loc cit.
 
Support : Femin Collection | Habitat Design | Kreatifa Media
Copyright © 2013. Belajar Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Habitat Design Published by Kreatifa Media
Proudly powered by Blogger