Pos Terbaru Semua Tentang Belajar Indonesia

Selama Bulan Puasa Tiket Masuk Waterbom Jakarta Hanya Rp 90.000

Thursday, July 11, 2013


Selama bulan puasa, seru juga kalau "ngabuburit" diisi dengan bermain-main di air. Waterbom Jakarta pun memberikan harga spesial dalam menyambut bulan Ramadhan.

"Kami ada wahana terbaru Twizter. Twizter itu seperti mangkuk, di tengahnya ada lubang. Jadi riders seperti di-flush (sedot ke bawah)," kata Bayu Ratono dari Waterbom Jakarta.

Pengunjung yang datang dalam rombongan minimal 20 orang, hanya dikenakan harga tiket masuk seharga Rp 90.000. Dengan harga tersebut, pengunjung mendapatkan tiket masuk, paket makan siang, tiga permainan, tenda dan matras. Promo ini berlaku mulai 8 Juli sampai 4 Agustus 2013.

"Harga reguler untuk anak-anak di weekday Rp 100.000 dan Rp 150.000 untuk dewasa. Kalau di weekend dan liburan, untuk anak-anak Rp 170.000 dan Rp 200.000 untuk dewasa," ungkap Bayu. 


sumber: kompas.com

Komunitas Hong: Indonesia Mampu Jadi Pusat Permainan Tradisional Dunia

foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Komunitas Hong yang merupakan penggiat pelestarian permainan tradisional berupaya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat permainan tradisional dunia. "Indonesia sebenarnya mampu menjadi pusat permainan tradisional," kata pendiri Komunitas Hong, Zaini Arif, di Dago, Bandung, baru-baru ini.

Menurut Zaini, Indonesia mampu menjadi pusat permainan tradisional dari berbagai negara dan menarik orang dari berbagai mancanegara untuk berwisata ke Indonesia.

"Indonesia bisa menjadi negara yang menarik wisatawan asing. Bukan sebaliknya, warga Indonesia yang cenderung lebih senang dan ingin mengunjungi luar negeri," kata Zaini.

Zaini mengemukakan Komunitas Hong tidak hanya meneliti serta melestarikan permainan tradisional dari dalam negeri, tetapi juga permainan tradisional dari luar negeri.

Pria berkacamata minus itu menjelaskan, dengan mengangkat permainan tradisonal, akan terangkat pula nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. "Banyak nilai yang terkandung di setiap permainan tradisional yang harus kita angkat kembali keberadaannya," katanya.

Dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk melestarikan permainan tradisional, Komunitas Hong akan menjadi tamu kehormatan pada salah satu kota di Jepang. "Kita diundang untuk menampilkan permainan-permainan tradisional di sana," kata Zaini.

Ia berharap Komunitas Hong akan lebih mengenalkan dan mengangkat kembali nilai permainan tradisional di Indonesia. 
Sumber : Antara

Berwisata ke Gunung Bromo, Jawa Timur


Menikmati pagi di Bromo menjadi impian bagi sebagian orang. Suasana yang hening, dingin, pemandangan yang dahsyat plus tradisi lokal yang terpelihara menjadi daya tarik Bromo yang abadi. Jawa Timur memang beruntung memilikinya. Bromo terletak sekitar 85 km dari Surabaya. Daerah ini bisa dijangkau dari Probolinggo atau Malang. Jalur normal biasanya dari Probolinggo. Adapun dari Malang, kita harus melewati lautan pasir dengan pilihan dan jumlah kendaraan yang terbatas.

Di Bromo, orang biasa menyaksikan terbitnya matahari di sela Gunung Bromo jika dilihat dari lereng Gunung Pananjakan. Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif dan memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.

Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi terbaik di Indonesia karena alam yang sangat indah dan keunikan budayanya. Di Bromo sudah banyak tersedia akomodasi yang memadai. Jika berkunjung pada bulan Kesada (bulan dalam kepercayaan masyarakat Bromo), kita bisa menyaksikan ritual Kesada, berupa upacara melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo yang bergolak.


BARRY KUSUMA Sunrise di Bromo.
Bagi penduduk Bromo, yaitu suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan upacara dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari, setiap bulan purnama.

Transportasi

Transportasi menuju Bromo dari Surabaya bisa dikatakan sangat mudah. Di Surabaya tersedia banyak transportasi, baik bus atau mobil sewaan. Pejalan mandiri sangat disarankan menyewa mobil dari Surabaya. Sewa mobil dengan mudah didapatkan di Bandara Surabaya. Tarif sewa mobil ini sekitar Rp 550.000 per hari sudah termasuk bahan bakar dan sopir. Lama perjalanan dari Surabaya ke Bromo sekitar empat hingga lima jam. Lamanya perjalanan disebabkan kita harus melewati kota Porong yang macet akibat bencana lumpur Lapindo.

Jika ingin menuju Bromo dengan transportasi umum, dari Bandara Juanda kita bisa naik taksi menuju Terminal Purabaya/Bungurasih Surabaya. Tarifnya sekitar Rp 40.000 hingga Rp 50.000. Di terminal ini, carilah bus menuju Terminal Bayu Angga Probolinggo. Jika masih bingung, bertanyalah pada penjual tiket. Ongkos bus sekitar Rp 50.000 untuk bus tanpa AC dan Rp 80.000 untuk bus ber-AC.

BARRY KUSUMA Bersepeda di Bromo.
Untuk menuju Surabaya, naik pesawat terbang adalah polihan terbaik karena menghemat waktu. Bahkan, kita bisa menghemat biaya jika mendapatkan tiket promo. Namun, jika ingin lewat jalur darat, ada beberapa pilihan bus dari Jakarta menuju Probolinggo. Misalnya saja bus Lorena atau Pahala Kencana jurusan Jakarta–Probolinggo, dengan tarif Rp 220.000 – Rp 250.000 dan turun di Terminal Probolinggo. Namun, jika Anda mulai dari Terminal Bungurasih, naiklah bus jurusan Probolingga dan turun di terminal.

Dari Terminal Probolinggo, naiklah mobil elf atau mobil khusus menjuju kawasan Cemoro Lawang dengan tarif Rp 25.000. Sayangnya, mobil ini punya waktu operasi, hanya pukul 08.00–14.00 Dan, ingatlah bahwa elf ini baru berangkat setelah penumpang penuh.

Menyewa mobil dari Surabaya menuju Bromo sangat disarankan. Selain menghemat waktu, perjalanan pun menjadi simpel karena angkutan umum dari Surabaya menuju Bromo agak sulit.

Selama di Bromo

Untuk menaiki Bukit Pananjakan, kita sebaiknya menggunakan jeep. Jika tidak menggunakan jeep, mobil bisa-bisa amblas di medan pasir. Jeep memang bisa melewati medan berpasir dan tikungan selama perjalanan ke Bromo. Untuk itu mintalah tolong kepada pihak hotel atau tempat kita menginap untuk mencarikan jeep karena mereka biasanya sudah bekerja sama dengan penyewaan jeep. Satu hal yang perlu diingat, saat upacara Kasada (yang diselenggarakan setiap bulan Agustus atau September), kita harus memesan mobil jauh-jauh hari.

BARRY KUSUMA Pemandangan di Gunung Bromo.
Jadwal menyewa jeep dengan rute normal (penginapan–Cemoro Lawang–Pananjakan–Gunung Bromo–penginapan) adalah pukul 03.30–08.00 WIB. Tarifnya sekitar Rp 350.000 – Rp 450.000 untuk mobil berkapasitas 5–6 orang. Tarif ini bukan harga mati alias bisa ditawar. Jika punya tujuan lain, kita bisa bernegosiasi langsung dengan sopir. Untuk diantar ke savanna atau bukit teletubbies, kita harus menambah ongkos sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000.

Ingat!

Cuaca Bromo sangat dingin, bahkan bisa sangat dingin saat subuh. Padahal kita berangkat ke Pananjakan Bromo untuk melihat matahari terbit pada waktu subuh. Jadi, jangan lupa untuk membawa beberapa peralatan wajib seperti jaket tebal, sweter, sarung tangan, kaos kaki, penutup kepala, sepatu (jangan mengenakan sendal), celana panjang (bukan celana pendek).

Obyek Wisata

Bromo adalah tempat wisata yang sangat ideal bagi warga kota yang ingin melepas penat karena semua obyek wisatanya bisa dikunjungi dalam waktu satu hingga dua hari saja. Berikut ini adalah beberapa obyek wisata yang bisa kita kunjungi.

Menikmati Sunrise di Pananjakan

Menyaksikan matahari terbit adalah momen terbaik menikmati alam Bromo. Agar bisa menikmatinya, kita harus berangkat naik jeep dari penginapan pukul 03.00 menuju Penanjakan. Mobil bisa kita sewa di penginapan. Atau, jika ingin menikmati pemandangan secara alami dan menyehatkan, kita bisa berjalan melewati jalan setapak menuju Penanjakan. Namun, untuk perjalanan seperti ini, kita sebaiknya menyewa pemandu yang sudah terbiasa menghadapi jalan dan medan di Bromo.

BARRY KUSUMA Gunung Bromo.
Di bukit Pananjakan kita bisa melihat Gunung Bromo dari atas, juga Gunung Batok dan Gunung Semeru. Saat matahari terbit, kabut masih menyelimuti bagian bawah Gunung Bromo sehingga panoramanya indah dan terasa penuh mistik.

Lautan Pasir

Setelah menikmati sunrise, kita menuruni bukit menyaksikan lautan pasir yang sangat indah, seluas 15 km2 di kaki Gunung Bromo. Di lokasi ini ada tempat yang dinamai Pasir Berbisik karena di sanalah syuting film 'Pasir Berbisik' diadakan. Di sini juga terdapat kuil Hindu yang konon tidak hancur saat Bromo meletus.

Kaldera Bromo

Agar bisa menikmati kaldera atau kawah Gunung Bromo, kita harus berjalan dari pura sejauh dua hingga tiga kilometer. Namun, jangan takut. Di sini kita bisa menyewa kuda dari penduduk Tengger dengan biaya Rp 50.000 – Rp 70.000. Namun, begitu tiba di tempat tujuan, kita masih harus menaiki sekitar 300 anak tangga untuk sampai di bibir kawah.



Kuliner Yogyakarta: Pisang Nasi Goreng

Saturday, April 20, 2013


Jika umumnya nasi goreng menggunakan nasi, lain halnya dengan Pisang Nasi Goreng. Menu yang satu ini menggunakan pisang matang yang setengah tua sebagai bahan utama pembuatannya, pisang itu digunakan sebagai pengganti nasi.

Ide ini dikreasikan oleh Ibu Tyas, yang merupakan salah satu juru masak Hotel Santika Premiere Yogyakarta, saat mengikuti lomba masak tahunan yang digelar oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Pisang juga memiliki kalium tinggi dan natrium rendah sehingga dapat membantu menjaga tekanan darah dan mencegah stroke. Olahan dari buah pisang juga sangat cocok sekali bagi penderita hipertensi karena mereka dianjurkan untuk mengurangi makanan berkadar garam tinggi. Pisang kaya akan kalium. Kandungan kalium yang tinggi dan kadar garam yang rendah adalah kombinasi yang baik bagi para penderita hipertensi.

Dengan berbagai manfaat yang terkandung dalam pisang inilah, Santika PremiereYogyakarta  mempersembahkan menu sehat pengganti nasi yang dinamakan "Pisang Nasi Goreng" sebagai Chef Suggestion bulan April 2013.



Beasiswa S1 dan S2 University of Wales, Newport, Inggris

Saturday, December 1, 2012


University of Wales, Newport, Inggris, menyediakan beasiswa internasional tahun 2012/2013 untuk program sarjana dan pascasarjana. Beasiswa ini akan diberikan berdasarkan prestasi pelamar, meliputi prestasi akademik, keterlibatan secara sosial budaya (termasuk proyek-proyek sosial untuk komuniatas atau pengalaman sukarelawan), serta pencapaian prestasi dalam seni.

Revisi Peraturan Pemerintah Tentang Waralaba

Thursday, November 1, 2012

Seni dan Budaya Indonesia

Wednesday, February 22, 2012



Kesenian dan kebudayaan asli Indonesia cukup menjanjikan untuk dijadikan salah satu sentra edukasi dan wisata budaya di dunia. Terbukti mulai dari wayang, keris batik hingga angklung sudah emndapat pengakuan dunia lewat badan Perserikatan Bangsa Bangsa yaitu UNESCO.

Tentunya dengan keragaman pesona benda prasejarah dari tradisi dan budaya yang dimiliki Indonesia dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Besarnya potensi kebudayaan dari masyarakat setiap pulau yang berbeda satu sama lain menjadi peluang besar yang secara berkesinabungan perlu untuk dikembangkan.

Kepekaan pemerintah juga diharapkan untuk tetap menjaga benda-benda budaya prasejarah tetap ada di Indonesia. Mungkin dengan lebih banyak melakukan kegiatan pemeran- pameran yang dipercaya dapat meningkatkan penelitian dan kebudayaan, promosi pariwisata, penyediaan sarana dan prasarana budaya atau lewat pagelaran seni dan sebagainya.

The Traditional Sumbanese House

Tuesday, February 21, 2012


Rumah adat means traditional house. Sumba is an island in eastern Indonesia, is one of the Lesser Sunda Islands, and is in the province of East Nusa Tenggara.

As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

According to the ancient Sumbanese myths, when the first ancestral house was built on the eighth heavenly sphere, the roof was covered by human hair taken during head hunting raids. Now dried palm leaves symbolically replace the human hair.

Traditional Sumbanese houses are built with tall peaked roofs that are topped with a projecting wooden beam at both ends holding a male and female figure made of carved wood or bound grass. The wooden beams on the roof are believed to be the entrance for the ancestor spirits to enter the house and give blessings to their descendants. The presence of Marapu is omnipresent among the living and the house is also seen as an important place of ancestor worship.

The four main wooden posts supporting the house from its foot to the top are closely associated with the rituals of ancestor worship. Racks made of rattan and wood hanging from the posts serves as offering altars. The first front post is where the Rato, the Animist priest, carries out his rituals of divination by invoking the appropriate spirit to guide him into the future. The second front pillar symbolizes the female ancestors. While the two rear pillars symbolize the male and female ancestors, as well as the spirits of fertility. These four main pillars are often carved with the same geometric designs that decorate the stone monuments that are in and around the village. In the house there are offering altars where sacred objects of the Marapu are kept. It is in these carefully selected corners of the house that the Rato make contacts with the spirits during religious ceremonies. Worship of the powerful invisible forces is a prevalent element in megalithic cultures and inseparable in Sumbanese daily life. As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

Although the house is regarded as a living heavenly altar on earth, ancestor worship is also common within the village and anywhere else that needs the blessings of the invisible forces. Small effigies known as Katoda are placed in front of houses, at the entrance of a village, and in the rice fields. Katoda may also take the form of simple branches or an undecorated upright stone carefully chosen by the Rato when performing a specific ritual.

Information source: http://www.nihiwatu.com
Pictures courtesy of Yori Antar Awal.


Architect Yori Antar Awal started the Rumah Asuh project, a movement trying to preserve traditional houses. Supported by funding from the Tirto Foundation, he goes to remote villages to help locals rebuild and renovate their traditional homes.
 
Support : Femin Collection | Habitat Design | Kreatifa Media
Copyright © 2013. Belajar Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Habitat Design Published by Kreatifa Media
Proudly powered by Blogger