Pos Terbaru Semua Tentang Belajar Indonesia

Komunitas Hong: Indonesia Mampu Jadi Pusat Permainan Tradisional Dunia

Thursday, July 11, 2013

foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Komunitas Hong yang merupakan penggiat pelestarian permainan tradisional berupaya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat permainan tradisional dunia. "Indonesia sebenarnya mampu menjadi pusat permainan tradisional," kata pendiri Komunitas Hong, Zaini Arif, di Dago, Bandung, baru-baru ini.

Menurut Zaini, Indonesia mampu menjadi pusat permainan tradisional dari berbagai negara dan menarik orang dari berbagai mancanegara untuk berwisata ke Indonesia.

"Indonesia bisa menjadi negara yang menarik wisatawan asing. Bukan sebaliknya, warga Indonesia yang cenderung lebih senang dan ingin mengunjungi luar negeri," kata Zaini.

Zaini mengemukakan Komunitas Hong tidak hanya meneliti serta melestarikan permainan tradisional dari dalam negeri, tetapi juga permainan tradisional dari luar negeri.

Pria berkacamata minus itu menjelaskan, dengan mengangkat permainan tradisonal, akan terangkat pula nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. "Banyak nilai yang terkandung di setiap permainan tradisional yang harus kita angkat kembali keberadaannya," katanya.

Dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk melestarikan permainan tradisional, Komunitas Hong akan menjadi tamu kehormatan pada salah satu kota di Jepang. "Kita diundang untuk menampilkan permainan-permainan tradisional di sana," kata Zaini.

Ia berharap Komunitas Hong akan lebih mengenalkan dan mengangkat kembali nilai permainan tradisional di Indonesia. 
Sumber : Antara

Japanese Language Program for Overseas Students University

Friday, April 20, 2012


Japanese Language Program for Overseas Students University adalah program pelatihan bahasa Jepang yang ditujukan bagi mahasiswa bahasa Jepang di luar negara Jepang. Program ini diselenggarakan oleh The Japan Foundation sejak tahun 2009. Indonesia merupakan salah satu negara yang terpilih untuk program ini.

Program ini merupakan beasiswa yang bertujuan memberi kesempatan bagi mahasiswa bahasa Jepang untuk memperdalam pengetahuan tentang bahasa, budaya, dan masyarakat Jepang.

Salah satu perguruan tinggi di Semarang yaitu Unnes, tahun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program ini  yang akan dilaksanakan mulai 6 November hingga 20 Desember 2012. Pelatihan dilaksanakan di The Japan Foundation Japanese Language Institute Kansai (Osaka) Jepang.

Pendaftar adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang dan mempunyai kemampuan berbahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan untuk keperluan komunikasi, pidato, dan diskusi. Peserta diharuskan sehat jasmani dan rohani. Selain itu semua biaya pelatihan termasuk tiket pesawat pulang-pergi ditanggung pihak penyelenggara, kecuali biaya pembuatan paspor dan visa.

Selamat Ulang Tahun Akira Yoshizawa, Bapak Origami

Wednesday, March 14, 2012


Hari ini, 14 Maret 2012, adalah hari ulang tahun ke 101 Akira Yoshizawa. Beliau adalah bapak origami yang telah menciptakan lebih dari 50.000 model origami dalam berbagai bentuk/ukuran. Sebagian diantaranya telah diabadikan ke dalam 18 buku khusus origami.

Akira Yoshizawa lahir pada 14 Maret 1911 dan meninggal 14 Maret 2005. Sepanjang karirnya, beliau menjabat sebagai duta internasional kebudayaan Negeri Sakura.

Di tahun 1983, pada masa pemerintahan Kaisar Hirohito, Akira memperoleh gelar Order of the Rising Sun, sebuah penghargaan tertinggi untuk seorang warga negara Jepang.

Akira merupakan pelopor berbagai teknik Origami, salah satunya wet-folding atau melipat kertas dalam keadaan basah. Dalam teknik ini kertas dibasahi sebelum dilipat, menciptakan tampilan yang lebih bulat dan tampak seperti dipahat.

Hal ini dianggap oleh banyak orang sebagai awal pergeseran paradigma origami menjadi sebuah karya seni, dari sebelumnya yang hanya dianggap sebagai kerajinan rakyat kuno.

Logo Google hari ini terinspirasi dari sang artis origami, Google menunjukkan penghargaannya kepada sosok Akira Yoshigawa dengan menampilkan teks Google yang terbuat dari kertas lipatan origami berbagai warna.

Seni dan Budaya Indonesia

Wednesday, February 22, 2012



Kesenian dan kebudayaan asli Indonesia cukup menjanjikan untuk dijadikan salah satu sentra edukasi dan wisata budaya di dunia. Terbukti mulai dari wayang, keris batik hingga angklung sudah emndapat pengakuan dunia lewat badan Perserikatan Bangsa Bangsa yaitu UNESCO.

Tentunya dengan keragaman pesona benda prasejarah dari tradisi dan budaya yang dimiliki Indonesia dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Besarnya potensi kebudayaan dari masyarakat setiap pulau yang berbeda satu sama lain menjadi peluang besar yang secara berkesinabungan perlu untuk dikembangkan.

Kepekaan pemerintah juga diharapkan untuk tetap menjaga benda-benda budaya prasejarah tetap ada di Indonesia. Mungkin dengan lebih banyak melakukan kegiatan pemeran- pameran yang dipercaya dapat meningkatkan penelitian dan kebudayaan, promosi pariwisata, penyediaan sarana dan prasarana budaya atau lewat pagelaran seni dan sebagainya.

The Traditional Sumbanese House

Tuesday, February 21, 2012


Rumah adat means traditional house. Sumba is an island in eastern Indonesia, is one of the Lesser Sunda Islands, and is in the province of East Nusa Tenggara.

As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

According to the ancient Sumbanese myths, when the first ancestral house was built on the eighth heavenly sphere, the roof was covered by human hair taken during head hunting raids. Now dried palm leaves symbolically replace the human hair.

Traditional Sumbanese houses are built with tall peaked roofs that are topped with a projecting wooden beam at both ends holding a male and female figure made of carved wood or bound grass. The wooden beams on the roof are believed to be the entrance for the ancestor spirits to enter the house and give blessings to their descendants. The presence of Marapu is omnipresent among the living and the house is also seen as an important place of ancestor worship.

The four main wooden posts supporting the house from its foot to the top are closely associated with the rituals of ancestor worship. Racks made of rattan and wood hanging from the posts serves as offering altars. The first front post is where the Rato, the Animist priest, carries out his rituals of divination by invoking the appropriate spirit to guide him into the future. The second front pillar symbolizes the female ancestors. While the two rear pillars symbolize the male and female ancestors, as well as the spirits of fertility. These four main pillars are often carved with the same geometric designs that decorate the stone monuments that are in and around the village. In the house there are offering altars where sacred objects of the Marapu are kept. It is in these carefully selected corners of the house that the Rato make contacts with the spirits during religious ceremonies. Worship of the powerful invisible forces is a prevalent element in megalithic cultures and inseparable in Sumbanese daily life. As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

Although the house is regarded as a living heavenly altar on earth, ancestor worship is also common within the village and anywhere else that needs the blessings of the invisible forces. Small effigies known as Katoda are placed in front of houses, at the entrance of a village, and in the rice fields. Katoda may also take the form of simple branches or an undecorated upright stone carefully chosen by the Rato when performing a specific ritual.

Information source: http://www.nihiwatu.com
Pictures courtesy of Yori Antar Awal.


Architect Yori Antar Awal started the Rumah Asuh project, a movement trying to preserve traditional houses. Supported by funding from the Tirto Foundation, he goes to remote villages to help locals rebuild and renovate their traditional homes.

Daftar Isi laman belajarindonesia.org

Thursday, December 29, 2011





Penutupan Jakarta Fashion Week

Monday, November 21, 2011

Jakarta Fashion Week 2012 berakhir pada Jumat (18/11/2011) lalu. Dalam malam penutupan, lima desainer yang tergabung dalam gelaran Dewi Fashion Knights menampilkan pertunjukan yang sama sekali berbeda. Unsur mistis, peperangan, mitologi kuno, menghiasi panggung dari satu desainer ke desainer lain. Busana-busana yang ditampilkan pun sebagian besar bukan busana siap pakai.

Auguste Susastro mungkin satu-satunya desainer yang menampilkan koleksi busana siap pakai pada malam penutupan yang berlangsung di Fashion Tent, Pacific Place, Jakarta itu. Misalnya koleksi busana dengan paduan blazer yang menjadikan dalamannya tampil berbeda jika blazer dilepas. Selain paduan blazer untuk busana kerja, Auguste juga menyiapkan busana-busana yang senada dengan tema "Restu Bumi".Pemilihan bahan dari serat alam adalah cara Auguste untuk menunjukkan kepedulian kepada lingkungan. Restu Bumi adalah persembahan untuk bumi dan lingkungan, dimana Auguste banyak menggunakan bahan sutera linings (non sintetik), sutera organza, dan serat nanas, yang aman bagi lingkungan.

Jika Auguste fokus kepada pemanfaatan bahan-bahan alam, Sebastian Gunawan (Seba) justru bermain dengan batik garut. Batik yang penuh warna ini dimanfaatkan Seba untuk membuat atasan atau bawahan dengan siluet-siluet sederhana karena motif dan warna kainnya sendiri sudah ramai. Jika membuat batik garut untuk bawahan celana panjang misalnya, ia hanya menambahkan atasan putih polos dengan sedikit volume dari lipatan di bagian perut. Atau jika atasannya adalah kain garutan, maka bawahannya bisa ditambahkan legging dengan warna senada yang mencolok. Seba juga membuat gaun panjang one shoulder yang hanya terbuat dari satu lembar kain. Ini bisa jadi inspirasi Anda untuk padu-padan batik yang ramai dan penuh warna.

Lalu Sally Koeswanto dengan tema "Love, Passion, and Lust" menampilkan koleksi busana yang sangat feminin, dengan menonjolkan tubuh pemakainya. Mayoritas rancangan Sally serba pendek, bahkan jika panjang pun akan ditemukan belahan yang tetap memancing tubuh wanita tetap terlihat. Untuk pemilihan motif, Sally terinspirasi dari phoenix atau burung api yang berasal dari legenda kuno Cina. Phoenix dalam mitologi Cina disebut fenghuang, yakni salah satu mahluk legendaris yang biasanya digunakan untuk menggambarkan Ratu dan Wanita. Phoenix mempunyai konotasi yang positif, yakni kebaikan, kemuliaan, cinta, dan kebahagiaan. Unsur-unsur ini dijadikan siluet dalam seluruh koleksi busananya.

Berbeda dengan koleksi desainer lainnya, Sapto Djokokartiko memukau penonton dengan koleksi busana yang bernuansa mistis. Dengan tema "Sang Raden Girah", Sapto mengangkat cerita legenda asal Bali. Sapto merepresentasikan sisi mistis Bali yang belum banyak disentuh orang lain. Elevasi gaya yang dicari oleh desainer ini adalah untuk memperlihatkan sebuah koleksi yang terfokus pada volume. Beberapa busana yang tampil dalam peragaan busana bahkan ada yang dibuat dalam waktu dua bulan.
Koleksi ini juga merefleksikan tradisi Bali dalam setiap detail, dari renda yang memperlihatkan ukiran relief yang sering ditemukan di Pulau Dewata, lemah gemulai bahan netting yang memperlihatkan gerakan tarian Bali, serta bahan-bahan sequin yang memperlihatkan semangat modern yang kini dimiliki Bali. Hal lainnya adalah tekstur tali tambang, paku, dan rambut yang menjadi ciri khas Bali.
Tex Saverio menutup peragaan busana dengan koleksi busana yang lagi-lagi bercerita. Perancang jebolan Lomba Perancang Mode ini menceritakan tentang suasana peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Tex menggunakan artisan ukir yang biasanya digunakan untuk dekorasi rumah, dan dimasukkan ke dalam busana-busananya. Perbedaan koleksinya kali ini dari koleksi sebelumnya adalah bagaimana ia berusaha mengurangi volume pada pakaian dan melakukan permainan material yang kontradiktif dengan pengembangan teknik.

Penutupan Jakarta Fashion Week 2012 jika dilihat dari koleksi busana, tema-tema yang diangkat para desainer, musik, dan koreografinya, memang sengaja dibuat sebagai bentuk seni dari sebuah selebrasi. Dengan tema utama "Celebrating Woman", penutupan JFW 2012 memang disuguhkan sebagai sebuah pertunjukan bagi pecinta fashion, yang ingin melihat sesuatu yang megah, berseni, dan menampilkan imajinasi kreatif para desainer. Lupakan sejenak busana-busana siap pakai, dan para tamu undangan menikmati pertunjukan dengan riuh tepuk tangan menyaksikan busana-busana "tidak biasa" yang disuguhkan lima desainer tersebut.

Yogya Juara Lomba Perancang Mode Batik dan Lurik Jakarta Fashion Week 2012

Salah satu segmen penting dalam event Jakarta Fashion Week 2012 ada Lomba Perancang Mode (LPM). LPM tak lain ajang pencarian desainer baru yang digelar Femina sejak tahun 1979. Ajang ini telah melahirkan nama-nama desainer ternama, di antaranya Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Carmanita, Stephanus Hamy, Taruna Kusmajadi, Musa Widyatmodjo, Denny Wirawan, Sally Koeswanto, dan Priyo Oktaviano. LPM juga telah melahirkan desainer-desainer muda saat ini seperti Eny Ming, Tex Saverio, Andreas Odang, Zacky Gaficky, dan Albert Yanuar.

Penyelenggaraan tahun ini mengangkat tema besar "Sinergi Timur-Barat, dimana para peserta ditantang untuk mengintrepretasi padu padan budaya lokal, yang menampilkan modernitas dalam detail rancangan. Hasil akhirnya adalah koleksi busana siap pakai untuk konsumen (wanita) masa kini.
"Kriteria penjurian mengacu pada hal tersebut, yaitu bagaimana kreativitas dan orisinalitas karya. Nanti tema tersebut bisa diekspolorasi, karena katanya kan di kolong langit ini tidak ada yang baru, semua sudah pernah dibuat. Karena itu, maknanya luas," tutur Petty S. Fatimah, pemimpin redaksi majalah Femina, menjelang final show LPM di Fashion Tent, Pacific Place, Jakarta, Kamis (17/11/2011) lalu.

Kriteria penilaiannya, menurut Petty, terdiri atas beberapa aspek, yaitu daya jual, daya pakai, dan teknik pembuatannya. Rancang busana mencakup pengetahuan finalis mengenai sejarah mode, namun yang tak kalah penting bagaimana mengemas busana yang bagus untuk dijual. Busana siap pakai harus disukai pasar, dan bisa dikenakan untuk sehari-hari. "Ada pula faktor harga, karena baju itu harus bisa terjual, dan (penjualnya) nggak boleh rugi. Maka yang didorong adalah semangat kewirausahaan," tambah Petty.

Tahun ini, LPM menerima sebanyak 296 sketsa, yang didominasi para mahasiswa sekolah mode di seluruh Indonesia. Sebagian di antaranya pernah dan sedang belajar di Jakarta, Singapura, Shanghai, dan Milan. Jumlah tersebut lalu mengerucut menjadi 20 sketsa di babak semifinal, dimana mereka harus mempresentasikan sketsa yang sudah menjadi satu pakaian jadi di hadapan para juri.
"Pada tahap ini kami lebih menekankan story koleksinya. Kemudian saat implementasi, bicara soal pengalaman, struktur badan, kain, teknik pola dan teknik jahit. Soalnya kadang-kadang desainer itu lupa bahwa mereka tak cuma menjual gambar, tapi juga hasil jadi. Kami membantu mereka untuk men-develop koleksinya untuk memberikan alternatif pada konsumen, jangan hanya terpaku pada satu bentuk baju. Kalau (finalis LPM) dulu cuma mengandalkan bakat, sekarang mereka harus bisa masuk ke industri," ungkap Musa Widyatmodjo, perancang yang menjadi salah satu anggota tim juri.

Selain Musa, tim juri beranggotakan Priyo Oktaviano, Syahmedi Dean (pengamat budaya pop), Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi Femina), Ninuk M. Pambudi (wartawan KOMPAS dan pengamat mode), Astrid Aryani (Marketing Manager Mazda Motor Indonesia), dan Atiqah Hasiholan (aktris).
Sepuluh finalis malam itu masing-masing menampilkan enam potong busana yang terdiri atas busana kasual, gaun coktail, dan gaun malam. Selain batik, para finalis juga mencoba mengolah kain tradisional lain seperti lurik, kain ikat oyutupas (Nusa Tenggara Timur), tenun samarinda, tenun endek (Bali), hingga sarung goyor. Sedangkan unsur barat umumnya muncul dalam bentuk model busana, seperti pemakaian petticoat (rok dalam), jumpsuit, basque top, atau gaya keseluruhan yang dipengaruhi busana Eropa dan Asia.
Penggunaan kain tradisional ini tampaknya justru membuat para finalis bebas bermain-main. Hampir tak ada kain batik yang tampil utuh dalam satu potongan baju. Finalis membuat permainan tabrak motif, mengaplikasikannya sebagai pola geometris, menjadikannya aksen pada tepi baju atau sebagai ikat pinggang, memadukannya dengan motif lain seperti garis, kotak-kotak, bordir, tie dye, atau dengan bahan seperti denim. Kreativitas juga muncul dalam bentuk detail, seperti atasan yang diberi epaulet (tanda pangkat kemiliteran), atau tas yang kemudian bisa berubah bentuk menjadi rok bawahan.
Final show ini akhirnya menghasilkan tiga orang pemenang, ditambah satu pemenang favorit (hasil pengumpulan SMS), dan satu pemenang penghargaan khusus persembahan Mazda. Pemenang pertama adalah Lulu Lutfi Labibi (Yogyakarta), pemenang kedua Friederich Herman (Malang), pemenang ketiga Cynthia Tan (Jakarta), pemenang favorit Sherly Monica (Jakarta), dan pemenang penghargaan khusus Erliana Sumali (Jakarta).
Menggunakan beberapa jenis kain dari daerah asalnya, seperti kain lurik, sarung goyor dari Klaten, tenun ikat dari Jepara, dan batik motif kontemporer, koleksi Lulu Lutfi memiliki total look yang modern. Rancangannya terlihat begitu fun, adem, dan nyaman dikenakan. Ada jumpsuit bergaya strapless, sarung yang dililitkan membentuk celana selutut, gaun dengan rok yang tembus pandang, dengan sedikit aksen merah di sana-sini. Motif batik bertemu bebas dengan motif lain seperti lurik, polka dot, atau kotak-kotak.
Sebagai pemenang pertama, Lulu berhak atas beasiswa The Fashion Institute of Design and Merchandising (FIDM) di Los Angeles, Amerika Serikat, selama tiga bulan dan uang tunai sebesar 4000 dollar. Pemenang kedua meraih uang tunai senilai Rp 17,5 juta, pemenang ketiga mendapatkan Rp 12,5 juta, sementara pemenang penghargaan khusus dan pemenang favorit memperoleh Rp 7,5 juta, dan tentunya dengan berbagai hadiah hiburan lain.
10 Finalis Lomba Perancang Mode
1. Iwan Amir (Jakarta), Dance Over the Rainbow
2. Erliana Sumali (Jakarta, pemenang persembahan Mazda), Variation Unit
3. Albert Ferdy Sibarani (Yogyakarta), Office Goddess
4. Delly Andriani (Tangerang), Geometrical Batik
5. Cynthia Tan (Jakarta, juara III), Relaxed Sensation
6. Friederich Herman (Malang, juara II), Perspective
7. Lulu Lutfi Labibi (Yogyakarta, juara I), Local Glory
8. Sherly Monica (Jakarta, juara favorit), Orient Romanticism
9. Popo Rickky (Jakarta), Phoenixian
10. Sischaet Detta (Jakarta), Rahajeng Wengi, Mademoiselle
 
Support : Femin Collection | Habitat Design | Kreatifa Media
Copyright © 2013. Belajar Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Habitat Design Published by Kreatifa Media
Proudly powered by Blogger