Pos Terbaru Semua Tentang Belajar Indonesia

Komunitas Hong: Indonesia Mampu Jadi Pusat Permainan Tradisional Dunia

Thursday, July 11, 2013

foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Komunitas Hong yang merupakan penggiat pelestarian permainan tradisional berupaya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat permainan tradisional dunia. "Indonesia sebenarnya mampu menjadi pusat permainan tradisional," kata pendiri Komunitas Hong, Zaini Arif, di Dago, Bandung, baru-baru ini.

Menurut Zaini, Indonesia mampu menjadi pusat permainan tradisional dari berbagai negara dan menarik orang dari berbagai mancanegara untuk berwisata ke Indonesia.

"Indonesia bisa menjadi negara yang menarik wisatawan asing. Bukan sebaliknya, warga Indonesia yang cenderung lebih senang dan ingin mengunjungi luar negeri," kata Zaini.

Zaini mengemukakan Komunitas Hong tidak hanya meneliti serta melestarikan permainan tradisional dari dalam negeri, tetapi juga permainan tradisional dari luar negeri.

Pria berkacamata minus itu menjelaskan, dengan mengangkat permainan tradisonal, akan terangkat pula nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. "Banyak nilai yang terkandung di setiap permainan tradisional yang harus kita angkat kembali keberadaannya," katanya.

Dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk melestarikan permainan tradisional, Komunitas Hong akan menjadi tamu kehormatan pada salah satu kota di Jepang. "Kita diundang untuk menampilkan permainan-permainan tradisional di sana," kata Zaini.

Ia berharap Komunitas Hong akan lebih mengenalkan dan mengangkat kembali nilai permainan tradisional di Indonesia. 
Sumber : Antara

Inilah Akun Twitter Presiden SBY

Sunday, April 14, 2013




Hari ini Sabtu, 13 April 2013,  akun twitte bernama @SBYudhoyono muncul di Twitter. Pemiliknya disebutkan bernama "Susilo B. Yudhoyono". Sebelumnya Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha  beberapa hari lalu mengungkap niatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin membuat akun Twitter pribadi.

Sebenarnya Istana Presiden sudah memiliki akun resmi dengan nama @IstanaRakyat, tetapi Presiden yang akrab disapa dengan akronim SBY merasa perlu memiliki akun pribadi.

Sama seperti akun @IstanaRakyat, akun @SBYudhoyono pun telah memperoleh badge verifikasi Twitter (verified account) yang menunjukkan bahwa akun tersebut memang benar-benar kepunyaan Presiden SBY.

Akun ini, berdasarkan keterangan dari Julian, sehari-hari akan dikelola oleh sebuah tim. Namun, Presiden SBY bisa langsung melakukan tweet sendiri juga bila dirasa ada informasi penting yang ingin disampaikan kepada publik.

10 Pencarian Terlaris di Indonesia Saat Libur Lebaran 2012

Monday, August 27, 2012



Ada perubahan tren pencarian informasi di internet selama bulan Ramadhan dan masa libur Lebaran di Indonesia. Banyak pengguna internet mencari topik terkini yang relevan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Perusahaan mesin pencari Google, mengungkap 10 hal yang paling dicari oleh pengguna Google di Indonesia sepanjang tanggal 17 sampai 23 Agustus 2012.

Gatoel (Gamelan Toetoel) - Cara Canggih Bermain Gamelan

Tuesday, July 17, 2012


Gamelan sudah pasti bukan istilah asing di telinga kita. Apalagi, kini, kita sedang gempar-gemparnya pelestarian budaya Indonesia agar tidak dicuri oleh orang asing. Alat musik yang dikembangkan sejak zaman kerajaan Majapahit ini merupakan serangkaian dari beberapa alat musik tradisional, seperti kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan kethuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter, suling, serta kempul yang dibunyikan secara bersamaan.

Kata gamelan berasal dari bahasa Jawa ”gamel” yang berarti memukul/menabuh, diikuti akhiran ”-an” yang menjadikannya kata benda.

Meskipun hanya dikembangkan di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok, tidak sedikit masyarakat di dunia ingin memainkan gamelan. Terbukti di negeri Paman Sam terdapat American Gamelan Institute. Lembaga itu didirikan tahun 1981 di California, Amerika Serikat, khusus untuk mendokumentasikan pertunjukan seni gamelan.

Namun, gamelan bukanlah alat musik favorit masyarakat yang dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja, seperti gitar, harmonika, dan pianika. Kisaran harga Rp 85.000.000 untuk satu set gamelan kuningan dengan berat lebih kurang 3 ton menjadikan alasan mengapa sedikit orang yang memiliki dan memainkan gamelan. Dewasa ini gamelan hanyalah sebuah nama dan budaya yang tercatat, tetapi secara aplikasi sudah punah di telinga kita.

Ide kreatif

Era modernisasi merupakan era di mana teknologi yang berkembang pesat dapat mengatasi kesulitan manusia dalam melakukan banyak hal, termasuk memudahkan masyarakat memainkan alat musik yang kurang praktis.

Pada 2011, munculah ide kreatif dan inovatif dari Reza Hadafi, Afrizal, Aang Pamuji, Farandi Kusumo, dan Respati Loy Amanda. Mereka adalah mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, yang dapat memperkenalkan gamelan kepada masyarakat luas secara praktis, efisien, dan ekonomis, yaitu dengan menciptakan software Gatoel (Gamelan Toetoel) pada OS Android.

Hanya bermodalkan perangkat telepon pintar, dengan Gatoel kita dapat memainkan tujuh macam alat musik gamelan, yaitu demung, saron, peking, slentem, kempul, bonang penerus, dan bonang barung dengan dua macam tangga nada, yaitu pelog dan slendro. Cara memainkannya adalah dengan mengeklik gambar macam alat musik yang kita inginkan, kemudian akan muncul suara dari alat musik yang kita tekan tersebut.

Peranti lunak (software) yang dikembangkan oleh Laboratorium B201 Computer and Telematics Engineering Teknik Elektro ITS ini memiliki tampilan berupa gambar tiga dimensi yang menyerupai gamelan asli agar menarik banyak pengguna.

”Jadi, para pengguna bisa merasakan bermain gamelan yang sebenarnya memainkan Gatoel ini,” tutur Aang. Sangat menarik. Kita bisa memainkan alat musik tradisional tanpa harus memiliki alatnya. Cukup memiliki Peranti lunaknya saja

Untuk inovasi selanjutnya, program yang menjadi finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Ke-25 yang diselenggarakan Juli ini akan dibuat aplikasi berupa game. ”Kalau sekarang ada Guitar Hero, selanjutnya mungkin akan ada Gatoel Hero,” lanjut Aang.

Dengan mudah dan tanpa dipungut biaya, kita dapat mencicipi aplikasi Gatoel dengan mengunduhnya pada alamat http://bit.ly/OIjFMj.

Japanese Language Program for Overseas Students University

Friday, April 20, 2012


Japanese Language Program for Overseas Students University adalah program pelatihan bahasa Jepang yang ditujukan bagi mahasiswa bahasa Jepang di luar negara Jepang. Program ini diselenggarakan oleh The Japan Foundation sejak tahun 2009. Indonesia merupakan salah satu negara yang terpilih untuk program ini.

Program ini merupakan beasiswa yang bertujuan memberi kesempatan bagi mahasiswa bahasa Jepang untuk memperdalam pengetahuan tentang bahasa, budaya, dan masyarakat Jepang.

Salah satu perguruan tinggi di Semarang yaitu Unnes, tahun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program ini  yang akan dilaksanakan mulai 6 November hingga 20 Desember 2012. Pelatihan dilaksanakan di The Japan Foundation Japanese Language Institute Kansai (Osaka) Jepang.

Pendaftar adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang dan mempunyai kemampuan berbahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan untuk keperluan komunikasi, pidato, dan diskusi. Peserta diharuskan sehat jasmani dan rohani. Selain itu semua biaya pelatihan termasuk tiket pesawat pulang-pergi ditanggung pihak penyelenggara, kecuali biaya pembuatan paspor dan visa.

Selamat Ulang Tahun Akira Yoshizawa, Bapak Origami

Wednesday, March 14, 2012


Hari ini, 14 Maret 2012, adalah hari ulang tahun ke 101 Akira Yoshizawa. Beliau adalah bapak origami yang telah menciptakan lebih dari 50.000 model origami dalam berbagai bentuk/ukuran. Sebagian diantaranya telah diabadikan ke dalam 18 buku khusus origami.

Akira Yoshizawa lahir pada 14 Maret 1911 dan meninggal 14 Maret 2005. Sepanjang karirnya, beliau menjabat sebagai duta internasional kebudayaan Negeri Sakura.

Di tahun 1983, pada masa pemerintahan Kaisar Hirohito, Akira memperoleh gelar Order of the Rising Sun, sebuah penghargaan tertinggi untuk seorang warga negara Jepang.

Akira merupakan pelopor berbagai teknik Origami, salah satunya wet-folding atau melipat kertas dalam keadaan basah. Dalam teknik ini kertas dibasahi sebelum dilipat, menciptakan tampilan yang lebih bulat dan tampak seperti dipahat.

Hal ini dianggap oleh banyak orang sebagai awal pergeseran paradigma origami menjadi sebuah karya seni, dari sebelumnya yang hanya dianggap sebagai kerajinan rakyat kuno.

Logo Google hari ini terinspirasi dari sang artis origami, Google menunjukkan penghargaannya kepada sosok Akira Yoshigawa dengan menampilkan teks Google yang terbuat dari kertas lipatan origami berbagai warna.

Hari Perempuan Sedunia / International Women’s Day 2012

Thursday, March 8, 2012


Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day ) yang jatuh tepat hari ini, 8 Maret, merupakan hari yang sangat bersejarah bagi para perempuan di seluruh dunia. Hari ini merupakan sebuah peringatan bahwa gender perempuan dengan laki-laki setara, baik dalam bidang sosial, politik dan juga budaya.

Google memperingati hari perempuan sedunia dengan mengganti logonya mengunakan logo yang bernuansa perempuan. Selain itu beberapa artis terkenal dunia juga turut merayakannya, seperti artis Angelina Jolie dan Meryl Streep yang turut menghadiri World Women Summit atau Pertemuan Puncak Perempuan Sedunia yang berlangsung di New York. Ini merupakan tahun ke 3 peringatan tersebut mulai dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut, parawanita dari berbagai negara menceritakan kesaksian dan kisah kaum perempuan di negara masing-masing dalam memperjuangkan hak mereka.

Dalam pertemuan tersebut dibahas pula masalah perlawanan wanita terhadap status quo, menentang perang, kekerasan, perbudakan dan eksploitasi.

Mengapa diputuskan tanggal 8 Maret ? Mari kita tengok sejenak sejarah Hari Perempuan Sedunia ini, yang tentu tidak terlepas dari peristiwa menyangkut kaum wanita.

Tahun 1910, kaum sosialis internasional dari 17 negara mengadakan pertemuan di Copenhagen, Denmark, yang diantara agendanya adalah membahas tentang hak-hak asasi wanita yang sering diabaikan.

Pertemuan tersebut akhirnya memutuskan untuk membuat Hari Perempuan Sedunia, agar hak kaum wanita lebih diperhatikan. Awalnya, Hari Perempuan Sedunia diperingati setiap tanggal 28 Februari.

Namun tahun 1920, peringatan tersebut tidak lagi diperingati, karena banyaknya konflik yang terjadi di dunia, termasuk perang.

Baru pada tahun 1975, PBB kembali memelopori diperingatinya Hari Perempuan Sedunia kembali dan diputuskan jatuh pada tanggal 8 Maret.

Semoga kaum wanita di seluruh dunia makin sejahtera dan mendapat hak-haknya secara adil. Selamat Hari Perempuan Sedunia 2012

Trik Jika Kena Tilang Polisi

Sunday, February 26, 2012


Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja kebutuhan, saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.

Polisi (Pol) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir ( Sop ) : Baik Pak?

Pol : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak
Pol : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang?lalu menulis dengan sigap 
Sop : Pak jangan ditilang deh? wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana? kalo ada pasti saya pasang
Pol : Sudah?saya tilang saja?kamu tau gak banyak mobil curian sekarang? (dengan nada keras !! )
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , ini kan bukan mobil curian!
Pol : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya?Saya mau yg warna BIRU aja
Pol : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak
berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?
Pol : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU? Dulu kamu bisa minta form BIRU? tapi sekarang ini kamu Gak bisa? Kalo kamu gak kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)
Dalam hati saya ?berani betul sopir taksi ini ?
Pol : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!?
Sop : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta form BIRU? Bapak kan yang gak mau ngasih
Pol : Kamu jangan macam-macam yah? saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan!? Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh? kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku
(sambil ngambil HP)
Wah ? wah hebat betul nih sopir ?. berani, cerdas dan trendy ? (terbukti dia
mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.
Pol : Hey! Kamu bukan wartawankan! ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu)
Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan ?shoot pertama? (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )
Pol 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yg menilangnya)
lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan
singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang.
Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi
Pol 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak?. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil
polisi yang menilang)
Pol : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)
Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp..30.600 sambil
berkata ?nih kamu bayar sekarang ke BRI ? lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini,
saya tunggu?..
Sop : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong kalo gini dari tadi kan enak?
Kemudian si sopir taksi segera menjalnkan kembali taksinya sambil berkata pada
saya, ?Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya ... mau transfer uang tilang . Saya
berkata ya silakan.

Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, ? ?Hatiku senang banget pak,
walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu.? ?Untung saya
paham macam2 surat tilang.?
Tambahnya, ?Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2
minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI?. Mending bayar
mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!?
Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai
berikut:

SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilai tilang... Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang..

SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda.Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. You know what!? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50ribu! dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA. info ini beritahukan teman, saudara sama keluarga Anda. Berantas korupsi dari sekarang.....

Seni dan Budaya Indonesia

Wednesday, February 22, 2012



Kesenian dan kebudayaan asli Indonesia cukup menjanjikan untuk dijadikan salah satu sentra edukasi dan wisata budaya di dunia. Terbukti mulai dari wayang, keris batik hingga angklung sudah emndapat pengakuan dunia lewat badan Perserikatan Bangsa Bangsa yaitu UNESCO.

Tentunya dengan keragaman pesona benda prasejarah dari tradisi dan budaya yang dimiliki Indonesia dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Besarnya potensi kebudayaan dari masyarakat setiap pulau yang berbeda satu sama lain menjadi peluang besar yang secara berkesinabungan perlu untuk dikembangkan.

Kepekaan pemerintah juga diharapkan untuk tetap menjaga benda-benda budaya prasejarah tetap ada di Indonesia. Mungkin dengan lebih banyak melakukan kegiatan pemeran- pameran yang dipercaya dapat meningkatkan penelitian dan kebudayaan, promosi pariwisata, penyediaan sarana dan prasarana budaya atau lewat pagelaran seni dan sebagainya.

The Traditional Sumbanese House

Tuesday, February 21, 2012


Rumah adat means traditional house. Sumba is an island in eastern Indonesia, is one of the Lesser Sunda Islands, and is in the province of East Nusa Tenggara.

As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

According to the ancient Sumbanese myths, when the first ancestral house was built on the eighth heavenly sphere, the roof was covered by human hair taken during head hunting raids. Now dried palm leaves symbolically replace the human hair.

Traditional Sumbanese houses are built with tall peaked roofs that are topped with a projecting wooden beam at both ends holding a male and female figure made of carved wood or bound grass. The wooden beams on the roof are believed to be the entrance for the ancestor spirits to enter the house and give blessings to their descendants. The presence of Marapu is omnipresent among the living and the house is also seen as an important place of ancestor worship.

The four main wooden posts supporting the house from its foot to the top are closely associated with the rituals of ancestor worship. Racks made of rattan and wood hanging from the posts serves as offering altars. The first front post is where the Rato, the Animist priest, carries out his rituals of divination by invoking the appropriate spirit to guide him into the future. The second front pillar symbolizes the female ancestors. While the two rear pillars symbolize the male and female ancestors, as well as the spirits of fertility. These four main pillars are often carved with the same geometric designs that decorate the stone monuments that are in and around the village. In the house there are offering altars where sacred objects of the Marapu are kept. It is in these carefully selected corners of the house that the Rato make contacts with the spirits during religious ceremonies. Worship of the powerful invisible forces is a prevalent element in megalithic cultures and inseparable in Sumbanese daily life. As in many sacred architectural forms in Indonesia, the house is not only seen as a mere dwelling place, it is regarded as symbol of the cosmos linking the divine world to that of Man.

Although the house is regarded as a living heavenly altar on earth, ancestor worship is also common within the village and anywhere else that needs the blessings of the invisible forces. Small effigies known as Katoda are placed in front of houses, at the entrance of a village, and in the rice fields. Katoda may also take the form of simple branches or an undecorated upright stone carefully chosen by the Rato when performing a specific ritual.

Information source: http://www.nihiwatu.com
Pictures courtesy of Yori Antar Awal.


Architect Yori Antar Awal started the Rumah Asuh project, a movement trying to preserve traditional houses. Supported by funding from the Tirto Foundation, he goes to remote villages to help locals rebuild and renovate their traditional homes.

Kata, Dipakai Dibuang Sayang


Mungkin awalnya orang Arab hanya tahu bersetubuh, yaitu ketika kelamin laki-laki dan perempuan saling bertemu. Disebutlah jima’ yang artinya berkumpul atau bertemu. Dan ketika unta-unta mereka berkumpul di padang rumput, mereka mengatakan ijtama’a al-ibil (unta-unta berkumpul). Hebatnya, dari ide sederhana ini mereka menemukan kata-kata jadian lainnya: ijma’ (kesepakatan ulama), ijtima’ (bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus), mujtama’ (orang-orang yang hidup bersama di satu tempat atau masyarakat), jami’ah (tempat mahasiswa belajar atau universitas), jum’at (hari orang berkumpul untuk melaksanakan salat bersama—salat jum’at), dan jama’ah (sekumpulan orang yang berada dalam satu garis kepemimpinan). Kata-kata ini selanjutnya digunakan sebagai istilah untuk menyebut berbagai hal yang ada dalam kehidupan mereka. Ada pola baku yang selalu diikuti sehingga bahasa Arab tidak saja berhasil mengembangkan berbagai macam peristilahan, ia juga mampu menjelaskan ide yang paling kompleks sekalipun.

Ketika Islam datang ke Nusantara, kita memborong kata-kata ini tanpa memerhatikan kaidah yang ada di belakangnya. Akibatnya adalah, bahasa kita kaya dengan kosa kata, namun miskin dalam peristilahan. Kita tidak punya istilah khusus untuk menyebut peristiwa sejajarnya bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis, yang menandakan bulan baru. Dan ternyata banyak istilah penting dalam bahasa kita diambil dari bahasa asing. Hal ini sebenarnya biasa dalam bahasa. Bahasa apa pun menyerap kata atau istilah asing. Hanya masalahnya, kebiasaan ‘memborong’ itu terus berlanjut. Mengapa kita tidak membuat istilah sendiri?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita lihat bahasa Arab, sebuah bahasa yang banyak menyumbang bahasa kita. Bahasa Arab memiliki metode tasrif (perubahan kata) yang bertujuan memperluas fungsi kata. Dari sini didapatkan istilah baru untuk mengungkap konsep baru. Siapa sangka bahwa kata tarbiyah (pendidikan) dalam bahasa Arab diambil dari kata rabwah, artinya humus, bunga tanah di mana tanaman bisa tumbuh subur. Dan siapa sangka pula bahwa syari’ah memiliki makna “jalan menuju mata air.” Di sini kita melihat penamaan didasarkan pada kesamaan atau kemiripan ide dasar. Perluasan terjadi karena kata tidak hanya punya arti yang sebenarnya (makna haqiqi), namun juga arti kiasan (makna majazi).
Di samping itu, dalam bahasa Arab, kata mempunyai sejumlah bentuk: kata kerja, kata benda, kata sifat, kata keterangan, dan masing-masing memiliki sub-bentuk, sehingga satu kata bisa memiliki belasan kata jadian. Kata “kataba” (menulis), misalnya, memiliki tasrif “kitab” (buku), “katib” (penulis), “maktab” (meja tulis), “maktabah” (perpustakaan), dan seterusnya. Ide “menulis” erat kaitannya dengan “buku,” dengan “perpustakaan.” Metode ini sederhana namun cerdas, karena bahasa bisa berkembang sedemikian rupa, melampaui simpul-simpul lokalnya untuk menampung ide-ide baru.

Dalam pengamatan saya, bahasa Indonesia pun memiliki metode ini, hanya memang tidak terstruktur dengan baik, sehingga kita seringkali mencari kata baru untuk membuat istilah baru. Padahal ide dasarnya sudah terkandung dalam perbendaharaan kata kita. Pada saat itulah godaan untuk meminjam istilah-istilah asing begitu dahsyat. Kata “biak” punya sejumlah bentuk jadian: membiak, pembiak, pembiakan, biakan, terbiak, dst. Sejauh ini kata ini hanya digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan ternak. Mengapa tidak kita gunakan “pembiakan” untuk “investment,” dan “pembiak” untuk “investor?” Mengapa kita hanya berani menggunakan “unduh” untuk “download?”

Dalam beberapa hal kita berani. Kita menemukan banyak kata baru akhir-akhir ini. Namun keberanian saja tidak cukup. Kita harus punya pola, salah satunya dengan cara memperluas fungsi kata: unduh, mengunduh, unduhan, pengunduh, pengunduhan, terunduh, keterunduhan, dst. Setelah kata-kata ini tercipta, mereka bisa digunakan untuk peristilahan lainnya. Kita bisa gunakan “pengunduhan” untuk “rush” (penarikan uang dalam jumlah besar karena peristiwa tertentu) dan “profit taking” (usaha ambil untung).

Sejauh ini ada upaya kreatif dari berbagai kalangan untuk menjajal kata-kata baru. Ini patut dihargai dan diteruskan. Gerus adalah kata yang relatif baru. Dalam benak saya, “menggerus” adalah proses pelumatan cabe, bawang, terasi di cowet untuk membuat sambal. Kata ini sekarang dipakai untuk berbagai hal yang berhubungan dengan longsor dan erosi. “Tebing itu akhirnya ambruk karena tergerus air.” Kita tentu bisa perluas lagi penggunaan kata ini, tidak saja untuk erosi dan abrasi, tapi juga untuk segala tindakan yang berhubungan dengan mengontrol dan menguasai. Setiap kali mendengar kata ini, saya menangkap kesan negatif sehingga kita bisa memadankannya dengan “intervensi.” “Pemerintah semakin menggerus kekuatan masyarakat sipil.” Mengapa tidak? Setelah bersusah payah menemukan kata itu, mengapa kita buang.

 Oleh Jajang Jahroni
Born in June 12, 1967, he obtained his B.A. from State Islamic Institute Jakarta, MA from Leiden University, the Netherlands. He is now PhD candidate in Boston University in the field of cultural anthropology. He previously worked with Center for the Study of Islam & Society (PPIM), published some articles and books on Islam, civil society, and democracy.

History of The Indonesian Language

Wednesday, January 4, 2012

I would not say that learning Indonesian is “easy”, as I don’t believe for an adult learning any language is “easy”. It is, however, relatively “easy” to get by in Indonesian, as historically speaking, the basis of this language was for many centuries used as a lingua franca or a means of communication among the traders, missionaries etc in the Indonesian archipelago including Indians, Chinese, Arabs and Europeans, perhaps as early as the first century. Because it was a lingua franca it had to be relatively simple for the different people visiting the archipelago to be able to communicate with it, in a relatively short time.

The place of origin of this language is around the Riau islands in the Malacca Straits, the thoroughfare of the trading traffic. The busy trade routes of the Strait of Malacca date from the 5th century CE. The earliest epigraphical evidence of the language, known as the “old Malay” language, is dated around 7th century and found at sites in Sumatera such as Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur and Karang Berahi. The language belongs to the family of Austronesian languages, found in the region from Madagascar in the west, Taiwan in the north, Easter Island in the East, and New Zealand, Christmas and Cocos Islands in the south. The first “foreign” contact were with Hindu Indians, followed by Muslim Arabs and Chinese before the arrival of the Europeans. The Portuguese (1511 to 1596) and then the Dutch (from 1596 onwards) languages, and of course English, enriched the vocabulary of the language, as did the 300 regional languages.

The Sanskrit influence from India is found mostly in religion, literature, architecture and philosophy (words like pustaka, sastra, darma, karya, mandala, guru). The Arabic influence is of course mostly in religion and law (nikah, akad, talak, hibah, hakim). The Chinese vocabulary is very limited and to be found mostly in food (tahu, mi, taoge, but also loteng). Portuguese is the origin of many words describing things which were introduced through contact with Europeans (mentega, sekolah, gereja, meja, jendela, sepatu). The Dutch introduced much administrative and educational terminology (kantor, polisi, kamar, administrasi), and English is the origin of most contemporary technical and electronic terminology (komputer, internet).

The language was originally written in the pre-Nagari (Pallawa) script. With the arrival of Islam it was then written in the Arabic script (called Jawi script in Malaysia). The Dutch introduced the Romanised script using the Dutch spelling. This is when the Malay language used in what is now Malaysia began to differ from the Indonesian language in the former Netherlands East Indies Territory. Several different spelling systems have been used: Van Ophuijzen in 1901 was the original spelling system, then the Soewandi system from 1947, and finally in 1972, in an Indonesian – Malaysian Language Agreement, the Ejaan Yang Disempurnakan (EYD: Improved Spelling) system. Knowing the older spelling systems is useful in understanding the different ways in which some personal names are written: Tjokroaminoto as to Cokroaminoto, Soeharto as opposed to rather than Suharto, Soerja rather than Surya.

At the initial stages, Indonesian grammar is relatively simple, because it does not have conjugation/tenses, plural, article, gender. It is a non-tonal language, and a non-hierarchical one: essentially the same vocabulary is used no matter to whom you are speaking or writing. Indonesian differs in this respect from Javanese, the first language of a majority of Indonesians, which has a hierarchical structure, and is seen by many modern Indonesians as a feudal language. However, advanced learners of Indonesian have to learn a complex system of affixation (prefixes, infixes and suffixes) and the list of exceptions and inconsistencies – though thankfully, although difficult to learn, these are not large in number. So the simplicity of the grammar at the beginning level is misleading, because this simplicity of the grammar makes it more difficult for the foreigners to be able to imitate the native speakers.

For native speakers of English, word order in Indonesian can be confusing. Thus for instance the adjective follows the noun, rather than precedes it: thus rumah merah, meaning red house, where rumah means house, and merah means red. Duplication can be used to create new words that differ in meaning: thus hati means heart (alongs other things) but hati-hati means to be careful.

Where is Indonesian spoken?


In the Republic of Indonesia, in East Timor, in Malaysia, Singapore and Brunei, some parts of the southern Philippines and the southern part of Thailand, and in the Australian territory in Christmas Island and Cocos Islands.

--by Iem Brown

Daftar Isi laman belajarindonesia.org

Thursday, December 29, 2011





Yogya Juara Lomba Perancang Mode Batik dan Lurik Jakarta Fashion Week 2012

Monday, November 21, 2011

Salah satu segmen penting dalam event Jakarta Fashion Week 2012 ada Lomba Perancang Mode (LPM). LPM tak lain ajang pencarian desainer baru yang digelar Femina sejak tahun 1979. Ajang ini telah melahirkan nama-nama desainer ternama, di antaranya Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Carmanita, Stephanus Hamy, Taruna Kusmajadi, Musa Widyatmodjo, Denny Wirawan, Sally Koeswanto, dan Priyo Oktaviano. LPM juga telah melahirkan desainer-desainer muda saat ini seperti Eny Ming, Tex Saverio, Andreas Odang, Zacky Gaficky, dan Albert Yanuar.

Penyelenggaraan tahun ini mengangkat tema besar "Sinergi Timur-Barat, dimana para peserta ditantang untuk mengintrepretasi padu padan budaya lokal, yang menampilkan modernitas dalam detail rancangan. Hasil akhirnya adalah koleksi busana siap pakai untuk konsumen (wanita) masa kini.
"Kriteria penjurian mengacu pada hal tersebut, yaitu bagaimana kreativitas dan orisinalitas karya. Nanti tema tersebut bisa diekspolorasi, karena katanya kan di kolong langit ini tidak ada yang baru, semua sudah pernah dibuat. Karena itu, maknanya luas," tutur Petty S. Fatimah, pemimpin redaksi majalah Femina, menjelang final show LPM di Fashion Tent, Pacific Place, Jakarta, Kamis (17/11/2011) lalu.

Kriteria penilaiannya, menurut Petty, terdiri atas beberapa aspek, yaitu daya jual, daya pakai, dan teknik pembuatannya. Rancang busana mencakup pengetahuan finalis mengenai sejarah mode, namun yang tak kalah penting bagaimana mengemas busana yang bagus untuk dijual. Busana siap pakai harus disukai pasar, dan bisa dikenakan untuk sehari-hari. "Ada pula faktor harga, karena baju itu harus bisa terjual, dan (penjualnya) nggak boleh rugi. Maka yang didorong adalah semangat kewirausahaan," tambah Petty.

Tahun ini, LPM menerima sebanyak 296 sketsa, yang didominasi para mahasiswa sekolah mode di seluruh Indonesia. Sebagian di antaranya pernah dan sedang belajar di Jakarta, Singapura, Shanghai, dan Milan. Jumlah tersebut lalu mengerucut menjadi 20 sketsa di babak semifinal, dimana mereka harus mempresentasikan sketsa yang sudah menjadi satu pakaian jadi di hadapan para juri.
"Pada tahap ini kami lebih menekankan story koleksinya. Kemudian saat implementasi, bicara soal pengalaman, struktur badan, kain, teknik pola dan teknik jahit. Soalnya kadang-kadang desainer itu lupa bahwa mereka tak cuma menjual gambar, tapi juga hasil jadi. Kami membantu mereka untuk men-develop koleksinya untuk memberikan alternatif pada konsumen, jangan hanya terpaku pada satu bentuk baju. Kalau (finalis LPM) dulu cuma mengandalkan bakat, sekarang mereka harus bisa masuk ke industri," ungkap Musa Widyatmodjo, perancang yang menjadi salah satu anggota tim juri.

Selain Musa, tim juri beranggotakan Priyo Oktaviano, Syahmedi Dean (pengamat budaya pop), Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi Femina), Ninuk M. Pambudi (wartawan KOMPAS dan pengamat mode), Astrid Aryani (Marketing Manager Mazda Motor Indonesia), dan Atiqah Hasiholan (aktris).
Sepuluh finalis malam itu masing-masing menampilkan enam potong busana yang terdiri atas busana kasual, gaun coktail, dan gaun malam. Selain batik, para finalis juga mencoba mengolah kain tradisional lain seperti lurik, kain ikat oyutupas (Nusa Tenggara Timur), tenun samarinda, tenun endek (Bali), hingga sarung goyor. Sedangkan unsur barat umumnya muncul dalam bentuk model busana, seperti pemakaian petticoat (rok dalam), jumpsuit, basque top, atau gaya keseluruhan yang dipengaruhi busana Eropa dan Asia.
Penggunaan kain tradisional ini tampaknya justru membuat para finalis bebas bermain-main. Hampir tak ada kain batik yang tampil utuh dalam satu potongan baju. Finalis membuat permainan tabrak motif, mengaplikasikannya sebagai pola geometris, menjadikannya aksen pada tepi baju atau sebagai ikat pinggang, memadukannya dengan motif lain seperti garis, kotak-kotak, bordir, tie dye, atau dengan bahan seperti denim. Kreativitas juga muncul dalam bentuk detail, seperti atasan yang diberi epaulet (tanda pangkat kemiliteran), atau tas yang kemudian bisa berubah bentuk menjadi rok bawahan.
Final show ini akhirnya menghasilkan tiga orang pemenang, ditambah satu pemenang favorit (hasil pengumpulan SMS), dan satu pemenang penghargaan khusus persembahan Mazda. Pemenang pertama adalah Lulu Lutfi Labibi (Yogyakarta), pemenang kedua Friederich Herman (Malang), pemenang ketiga Cynthia Tan (Jakarta), pemenang favorit Sherly Monica (Jakarta), dan pemenang penghargaan khusus Erliana Sumali (Jakarta).
Menggunakan beberapa jenis kain dari daerah asalnya, seperti kain lurik, sarung goyor dari Klaten, tenun ikat dari Jepara, dan batik motif kontemporer, koleksi Lulu Lutfi memiliki total look yang modern. Rancangannya terlihat begitu fun, adem, dan nyaman dikenakan. Ada jumpsuit bergaya strapless, sarung yang dililitkan membentuk celana selutut, gaun dengan rok yang tembus pandang, dengan sedikit aksen merah di sana-sini. Motif batik bertemu bebas dengan motif lain seperti lurik, polka dot, atau kotak-kotak.
Sebagai pemenang pertama, Lulu berhak atas beasiswa The Fashion Institute of Design and Merchandising (FIDM) di Los Angeles, Amerika Serikat, selama tiga bulan dan uang tunai sebesar 4000 dollar. Pemenang kedua meraih uang tunai senilai Rp 17,5 juta, pemenang ketiga mendapatkan Rp 12,5 juta, sementara pemenang penghargaan khusus dan pemenang favorit memperoleh Rp 7,5 juta, dan tentunya dengan berbagai hadiah hiburan lain.
10 Finalis Lomba Perancang Mode
1. Iwan Amir (Jakarta), Dance Over the Rainbow
2. Erliana Sumali (Jakarta, pemenang persembahan Mazda), Variation Unit
3. Albert Ferdy Sibarani (Yogyakarta), Office Goddess
4. Delly Andriani (Tangerang), Geometrical Batik
5. Cynthia Tan (Jakarta, juara III), Relaxed Sensation
6. Friederich Herman (Malang, juara II), Perspective
7. Lulu Lutfi Labibi (Yogyakarta, juara I), Local Glory
8. Sherly Monica (Jakarta, juara favorit), Orient Romanticism
9. Popo Rickky (Jakarta), Phoenixian
10. Sischaet Detta (Jakarta), Rahajeng Wengi, Mademoiselle

Kayu-kayu yang Dipercaya Memiliki Kekuatan Gaib dan Bertuah di Indonesia

Saturday, October 22, 2011

Setiap ciptaan Allah SWT mempunyai berbagai kelebihan dan rahasia, baik yang nampak maupun yang masih tersembunyi. Sinar matahari dan curahan hujan menyuburkan bumi, hingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan
yang tak terhitung jumlahnya dengan berbagai khasiat dan manfaat yang terkandung atas se-izin-Nya.

Dikalangan masyarakat kita, terutama yang ada di Pulau Jawa, ada yang mempunyai keyakinan bahwa untuk beberapa jenis kayu tertentu, ada yang memiliki daya gaib dan khasiat tertentu. Asal kayu tersebut bisa saja karena berasal dari pohon atau kayu bekas tempat keramat atau yang dikeramatkan seperti makam leluhur, para Wali atau karena langka, susah mendapatkannya atau bisa juga karena memiliki sifat khusus yang tidak dimiliki kayu lain.

Ternyata Indonesia Sudah Bisa Membuat Peta Sejak Dari Zaman Majapahit

Friday, October 21, 2011


Sejarah mencatat bahwa kegiatan survei dan pemetaan di Nusantara dilakukan sejak delapan abad lalu. Salah satu buktinya, peta paling awal tentang Nusantara sudah dibuat oleh bangsa Nusantara sendiri pada masa Majapahit.



“Itu menurut CJ Zandvliet dari Belanda dalam jurnal Holland Horizon tahun 1994,” kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Rudolf W Matindas pada peluncuran buku Survei dan Pemetaan Nusantara: 40 Tahun Bakosurtanal di Jakarta.


“Peta administratif pernah dibuat pada masa Raden Wijaya memerintah Kerajaan Majapahit, dan diserahkan kepada tentara Yuan asal China, yang menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1292,” ujarnya.


Namun, sejarah juga mencatat bahwa peta pertama tentang Indonesiaadalah peta navigasi yang dibuat pada abad ke-15 ketika Laksamana Cheng Ho dari China melakukan pelayaran di wilayah negeri ini.


Pemetaan Indonesia yang lebih maju, ujarnya, dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial yang awalnya datang sebagai pedagang dari mancanegara untuk mencari rempah-rempah. Pada penjajahan Belanda selama 3,5 abad itulah Belanda melakukan survei dan pemetaan ke berbagai wilayah, dan menginventarisasi kekayaan hayati Nusantara sehingga muncul berbagai peta wilayah Nusantara yang karena keterbatasan teknologi memiliki akurasi rendah.


Empat abad kemudian, ketika Indonesia telah lahir, pemetaan secara lebih detail belum ada. “Bahkan, berapa jumlah pulau di Indonesia belum juga diketahui dan baru dirintis pertama kali oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melibatkan tokoh Bakosurtanal,” ujarnya.


“Sejak beberapa tahun terakhir, Bakosurtanal tengah merintis pembuatan peta berskala besar dengan akurasi tinggi yang dimungkinkan oleh teknologi yang semakin canggih, dari mulai teknologi penginderaan jauh, teknologi digital, teknologi GPS, dan teknik pemrosesan data dengan sistem komputer,” katanya.


Sementara itu, pakar Sejarah LIPI, Dr Asvi Warman Adam, menegaskan pentingnya peta, yang disebutkannya sebagai satu dari tiga faktor yang membentuk suatu bangsa, selain sensus dan museum.


“Peta merupakan tulang punggung bagi pembentukan suatu negara dan identifikasi suatu bangsa,” katanya.


Adapun sosiolog Imam Prasodjo di tempat yang sama mengeluhkan tersebarnya berbagai peta di berbagai institusi, seperti peta hutan gundul di Kementerian Kehutanan, peta tata ruang kota di Badan Pertanahan Nasional (BPN), peta fertilitas di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).


“Negara kita terlalu senang membuat pengotak-ngotakan. Seharusnya, Bakosurtanal mengintegrasikan semua peta di berbagai institusi ini, dan menjadikan semua pemetaan Nusantara sebagai data digital yang bisa diakses semua orang,” katanya.Buku Survei dan Pemetaan Nusantara yang tebal dan hanya dicetak 1.000 eksemplar tersebut selain berbicara mengenai peran survei dan pemetaan juga membahas peran Bakosurtanal dalam melakukan survei dan pemetaan nasional.
 
Support : Femin Collection | Habitat Design | Kreatifa Media
Copyright © 2013. Belajar Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Habitat Design Published by Kreatifa Media
Proudly powered by Blogger